Beda Kelas Erik Thohir dan Anies Baswedan Dalam Menggelar Event Internasional
Broniesupdate, Jakarta --- Nama Menteri BUMN Erik Thohir tengah mencuat dalam bursa pemilihan Bakal Calon Wakil Presiden (Bacawapres) yang kemungkinan besar diusung pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, terlebih lagi Erick Thohir sudah mendapat restu dari Presiden Joko Widodo.
Prestasi
Erik Thohir yang digadang-gadang membuatnya pantas masuk dalam bursa Bacawapres,
adalah keberhasilan dalam menanggulangi pandemi covid 19, pemulihan ekonomi
nasional, transformasi kementerian BUMN, dan yang paling membanggakan yaitu
menyelamatkan dunia persepakbolaan Indonesia.
Menyelamatkan
dunia persepakbolaan Indonesia perlu digaris bawahi, pasalnya FIFA melalui
halaman resminya telah memutuskan untuk mencabut status Indonesia sebagai tuan
rumah Piala Dunia U20 2023”. Sesaat sebelum pengumuman pencabutan itu diambil,
Ketua Umum PSSI Erik Thohir bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Infantino di Doha,
Qatar, Rabu 29 Maret 2023. Kedatangan Erik sendiri diutus oleh Presiden Joko
Widodo.
Keputusan
FIFA untuk mencabutan status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20
bukannya tanpa sebab. Pencabutan ini dikarenakan karena ketidakjelasan sikap
dari PSSI dan pemerintah terhadap berbagai penolakan keikutsertaan timnas Israel
di Piala Dunia U20. Timnas Israel sendiri dipastikan ikut Piala Dunia U20 lantaran
sudah lolos kualifikasi.
Kini
PSSI tengah menungu sanksi FIFA yang akan segera diumumkan. Exco PSSI Arya Sinulingga
mengungkapkan jika sanksi betul-betul terjadi Indonesia tidak akan dapat
melakoni uji coba yang diakui oleh FIFA serta larangan menggelar kompetisi
sepakbola. Selain itu Indonesia dikhawatirkan tidak diberi kesempatan FIFA
untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 dan tidak lagi
dipercaya untuk menggelar ajang olahraga lainnya karena dianggap diskriminatif.
Nama
Erik Thohir sudah pasti menjadi sorotan, karena ditahun pertamanya menjabat
sebagai ketua Umum PSSI, sang penyelamat pesepakbolaan nasional itu menghadiahi
organisasi yang dipimpinnya dengan sanksi dari FIFA. Erik Thohir dinilai tidak
peka dengan kondisi politik yang ada, keikutsertaan Israel di Piala Dunia U-20
2023 menjadi isu hangat yang banyak dibahas, padahal Israel memastikan satu
tempat di Piala Dunia U-20 sejak Juni 2022 lalu.
Pengamat
sepak bola dan juga Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali dikutip
dari Kompas.com mengatakan Indonesia harus menerima harga mahal dari
kesalahannya sendiri karena tidak lepas dari sikap mencampuradukkan sepakbola
dengan kepentingan politik.
“Ini
kan karena kesalahan kita, mencampuradukkan politik dengan sepak bola, karena
ketidakpahaman kita, dipikir kita bisa mengendalikan FIFA,” Kata Akmal.
Jika
penolakan terhadap keikutsertaan timnas Israel murni berlandaskan konstitusi
maka penolakan ini seharusnya terjadi sejak Israel dinyatakan lolos Piala Dunia
U20 pada Juni 2022. Akan tetapi penolakan justru muncul secara tiba-tiba
menjelang waktu pengundian Piala Dunia U20 di Bali.
“Kan
sampai 1 Januari 2023 semua masih komitmen, gubernur-gubernur itu sampaikan
komitmennya. Kok tiba-tiba pada 14 Maret muncul surta dari Koster karena
menolak Israel. Ini kan menyakiti FIFA, sehingga membuat FIFA marah,” Tegasnya.
Erick
Thohir selaku Ketua Umum PSSI seharusnya dapat berdiri paling depan dan berlaku
tegas dengan berani mengesampingkan kepentingan politik demi kelangsungan dunia
persepakbolaan nasional, bukan hanya menunggu instruksi dan kerendahan hati
dalam meminta maaf.
Beda Erick dan Anies Dalam Menghadapi
Penolakan
Sewaktu
menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan juga mendapatkan begitu
banyak penolakan ketika dirinya bersama jajaran pemprov DKI Jakarta ingin
menggelar kejuaraan internasional Formula E yang bertempat di sekitaran Monas.
Penolakan
kala itu berujung aksi unjuk rasa ratusan masa yang berorasi di depan Gedung DPRD
Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Pusat. Mereka menuntut Formula E dibatalkan
karena dilakukan pasca pandemi Covid-19 disaat perekonomian Jakarta sedang
berusaha untuk bangkit. Mereka menuntut agar anggaran penyelenggaraan Formula E
dialihkan untuk kesejahteraan warga Jakarta.
Penolakan
keras juga datang dari ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, saat itu ia
getol menyemprot Gubernur Anies Baswedan soal penyelenggaraan Formula E karena
berpotensi membebani APBD DKI Jakarta. Bahkan Prasetyo termasuk 33 anggota
dewan yang ingin menggulirkan hak interpelasi terhadap Anies terkait balap
mobil bebas emisi tersebut.
Untuk
lokasi penyelenggaraan lomba juga mendapat penolakan, yang sebelumnya direncanakan
akan di kawasan Monas, karena pada saat itu pertimbangan Gubernur Anies adalah untuk
memperkenalkan monas kepada dunia lewat Formula E. Ahmad Riza Patria selaku
Wakil Gubernur DKI Jakarta mengatakan ada beberapa pertimbangan batalnya Monas
menjadi lokasi balapan Formula E yakni statusnya sebagai cagar budaya hingga
ring satu.
“Monas
adalah kawasan cagar budaya, masuk kategori heritage, dan lokasi berada di ring
satu jadi tidak memungkinkan diadakan kejuaraan disana.” Ujarnya.
Akibat
penolakan ini akhirnya Pemprov DKI Jakarta menggelar Formula E di Sirkuit Internasional
e-Prix Jakarta dikawasan Ancol, Jakarta Utara.
Belum
lagi ancaman datang dari Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA)
212, Novel Bamukmin. Seperti yang diketahui PA 212 adalah salah satu organisasi
masa yang mendukung Anies pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Novel menyoroti sponsor
acara yang melibatkan sebuah merek minuman keras terkenal, Heineken. Novel
terang-terangan menyampaikan rasa kekecewaannya kepada Anies Baswedan karena
telah memberikan ruang kepada Heineken mensponsori Formula E.
Menurutnya
dengan Heineken mensponsori Formula E Jakarta dapat melukai hati umat Islam
yang telah mendukung Anies Baswedan selama memimpin Jakarta.
Begitu
banyak Penolakan dan kritikan dari berbagai pihak, mulai sebelum
penyelenggaraan Formula E bahkan setelah Formula E Jakarta sukses digelar. Tapi
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan benar-benar tahu cara menghadapi masalah
dengan berkolaborasi dan memanfaatkan waktu yang tersisa agar usahanya membawa
Jakarta dan Indonesia kepada dunia melalui Formula E dapat tetap terlaksana.
Resiko
kegagalan yang begitu besar juga menghantui Pergelaran Formula E di Jakarta,
dan jika perhelatan ini batal terselenggara, tidak menutup kemungkinan Pemprov
DKI Jakarta akan terkena sanksi karena telah melanggar kontrak langsung dengan
manajemen Formula E. Dari Federasi Otomotif Internasional (FIA) juga pasti
memberikan catatan khusus kepada Indonesia karena tidak mampu melaksanakan
ajang bergengsi internasional.
Anies
sadar betul bahwa suksesnya pergelaran acara internasional juga akan membawa
dampak positif bagi image branding Jakarta dan Indonesia.
“Insya
Allah balapan ini akan mendatangkan manfaat bagi banyak pihak di Jakarta dan
Indonesia,” kata Anies, melalui akun instagramnya, Sabtu (16/10).
Anies
meyakini dengan dihelatnya Formula E akan menjadi pesan atau ajakan kepada
masyarakat dunia untuk berkunjung ke Indonesia, baik sebagai turis atau
investor.
“Hal
ini tentunya akan memberikan kesempatan yang besar untuk mempromosikan negeri
Indonesia,” kata anies. Red
Komentar
Posting Komentar