Hentikan menakut-nakuti rakyat!
Oleh ; Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)
Tidak
disangkal bahwa dunia kita saat sejak beberapa tahun terakhir menghadapi
permasalahan multi dimensional. Dari masalah keamanan (peperangan dan
kekerasan), masalah sosial ekonomi, hingga kepada masalah lingkungan hidup
(climate change) dan kerusakan alam (natural disaster) yang nyata mengancam
kehidupan manusia.
Sesungguhnya
permasalahan dunia kita bukan hanya akan terjadi di tahun 2023 ini. Bahkan
sebelum merebaknya pandemi covid 19, yang boleh jadi merupakan peristiwa kelam
dalam sejarah manusia itu, berbagai permasalahan kehidupan telah banyak
dibicarakan. Isu lingkungan, peperangan dan ketidak amanan, hingga ke masalah
ekonomi dan kemiskinan dan seterusnya.
Saya
teringat Sekjen PBB ketika itu, Kofi Annan, menyampaikan laporannya pada
Pertemuan Tingkat Tinggi memasuki abad 21 atau “Millennium Summit” di tahun 2000. Ketika itu beliau menyampaikan
bahwa manusia memasuki abad baru (abad 21) ini menghadapi berbagai ancaman yang
mengkhawatirkan.
Beliau
ketika itu menekankan bahwa manusia akan memasuki abad baru ini dengan dua
bentuk tekanan atau ancaman (threat).
Yaitu ancaman ketakutan atau ketidak amanan (fear) dan ancaman kemiskinan atau ketidak mampuan memenuhi hajat
hidup manusia secara layak. Dan karenanya menurut beliau, memasuki abad 21 ini
manusia harus dibebaskan dari ketidak
amanan (freedom from fear) dan
dari kebutuhan atau kemiskinan (freedom
from want).
Sejak
Annan menyampaikan pidato itu rasanya dunia kita belum juga pernah terbebaskan
dari kedua ancaman itu. Perang demi perang; Afghanistan, Irak, Suriah, Libya,
dan banyak lagi. Hingga ke masalah kemiskinan dan kelaparan yang masih
membebani kehidupan di berbagai belahan dunia.
Intinya
adalah bahwa dengan peristiwa Covid yang menimpa sejagad dunia, ditambah lagi
dengan peperangan Rusia-Ukraina yang diprediksi akan memakan waktu lama
bukanlah hal baru yang harus menumbuhkan “over
worried” (kekhawatiran berlebihan). Tapi sebuah fenomena kehidupan yang
nampaknya bergerak secara alami.
Karenanya
ada hal yang menggelitik ketika sebagian orang, apalagi jika mereka itu berada
di posisi kepemimpinan, menyampaikan pidato-pidato atau statemen yang seolah
menakut-nakuti masyarakat. Padahal realitanya masyarakat tetap menjalani
hidupnya seperti normal apapun dinamika yang terjadi dalam kehidupan.
Dunia
pernah, sedang dan akan mengalami pergerakan dan dinamika dalam segala
aspeknya. Tapi semua itu menjadi bagian dari situasi biasa bahkan alami pada
kehidupan. Dan setiap tempat dan masa akan ada keadaan yang unik, yang boleh
jadi memang berbeda dengan tempat dan masa yang lain. Hanya saja masing-masing
punya caranya untuk merespon situasi bahkan yang terburuk sekalipun.
Terkhusus
bangsa Indonesia yang besar dan hebat itu takkan terjatuh ke dalam perangkap
ketakutan dan “over worried” yang
boleh jadi akan mematikan motivasi dan rasa percaya diri dalam menjalani
kehidupan dengan warna warni dinamikanya. Tanah dan lautan negeri ini masih
lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Saya
justru curiga (nggak apa kan?) jika penyampaian-penyampaian yang membangun rasa
takut (fear) dan kekhawatiran (worries) yang berlebihan itu memiliki tujuan dan
agenda terselubung. Dan itu bisa kita lihat ketika menyampaikan kekhawatiran
tapi sekaligus menyampaikan “self claim”
(pengajuan) tentang keberhasilan menekan inflasi dan krisis ekonomi misalnya.
Apapun
itu hentikan politisasi “emosi” rakyat. Emosi itu bisa marah atau sebaliknya
senang. Bisa juga ketakutan atau sebaliknya keberanian. Hentikan mengendarai
emosi rakyat untuk meraih kepentingan tertentu. Rakyat saya yakin cukup pintar
dan dewasa dalam melihat berbagai febomena yang terjadi.
Hentikan menakut-nakuti rakyat!
NYC Subway, 20 Januari 2023

Komentar
Posting Komentar