Beda Anies dan Ganjar Dalam Penanganan Masalah Banjir


Broniesupdate, Jakarta --- Banjir yang menggenangi wilayah Semarang dan sekitarnya berangsur-angsur surut setelah empat hari mengepung warganya. Banjir juga terjadi di beberapa wilayah di DKI Jakarta dan juga menjadi sorotan publik dan netizen. Kontestasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pilpres 2024 pun kembali menjadi perbincangan hangat publik terkait penanganan banjir.

Banyak pengamat lingkungan dan kebijakan publik setuju bahwa banjir harus dilihat dari sisi objektifitasnya, karena kepadatan penduduk di suatu wilayah perkotaan yang memiliki bibir pantai sudah pasti akan mengalami banjir. Tetapi bagaimana cara pemimpin daerah tersebut dalam menanggulangi banjir lah permasalahan yang sebenarnya. Beda Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan dalam hal penanggulangan banjir di wilayah mereka yang menjadi sorotan masyarakat.

Banjir tentunya bukan permasalahan baru di Jakarta, setiap Gubernur yang menjabat selalu dibebani pekerjaan rumah yang sama.  Secara geografis, wilayah Jakarta dikelilingi 13 sungai, sehingga potensi banjir akan selalu ada dan saat ini beberapa ketinggian daratan Jakarta sudah berada dibawah permukaan laut. Oleh karena itu sepanjang pantai utara Jakarta, Pemprov DKI membangun tanggul penahan untuk mencegah masuknya air laut ke kota.

Saat ini Jakarta memiliki 39 titik banjir rob yang tersebar di kawasan Jakarta Utara sebanyak 24 titik, dan Jakarta Barat 14 titik.

Sewaktu menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengungkapkan, Siaga, Tanggap, Galang menjadi pegangan teguh para jajaran Pemprov DKI Jakarta dalam mengatasi banjir. Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai program yang tidak berorientasi pada betonisasi. Salah satunya adalah program Gerebek Lumpur di lima wilayah. Gerebek Lumpur adalah kegiatan pengerukan lumpur yang dilakukan secara masif di danau, sungai, waduk di Jakarta.

Kedua, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta membuat kolam-kolam air guna mengantisipasi dan menampung genangan air sementara di jalan raya saat hujan yang kemudian dialirkan ke laut atau ke sungai.

Ketiga, Memperbaiki saluran air, mengintensifkan instalasi sumur resapan atau drainase vertikal.

Keempat, mengimplementasikan blue and green yaitu taman yang menjadi kawasan tampungan air sementara saat intensitas hujan tinggi.

Kelima, memaksimalkan unit pompa yang dimiliki oleh Pemprov DKI Jakarta memiliki 475 unit pompa stasioner dan 429 unit pompa mobile, kapasitas pompa pun meningkat 54% dalam sepuluh tahun terakhir, yakni total kapasitas pompa saat ini sebesar 129m3.

Keenam, membuat aplikasi Flood Control System atau sistem pengendalian banjir. Sistem dengan kecanggihan Internet of Things (IoT) dan Artificial Inteligence (AI) yang dibuat khusus untuk memantau dan menangani banjir di Jakarta.

Sistem ini juga yang mengatarkan Pemprov DKI Jakarta menjadi juara dalam ajang penghargaan The World Summit on the Information Society (WSIS).

Ketujuh, membuat waduk – waduk yang bertujuan untuk menampung limpahan air sungai dari wilayah luar Jakarta, anies menamakan waduk ini sebagai “ruang limpah”. Waduk pertama di bangun di kawasan Cimpedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Waduk Brigif diharapkan dapat mengurangi dampak genangan di daerah hilir kali krukut dengan memiliki volume tampungan sebesar 308.000 m3.

Alhasil dari usaha Anies dalam menanggulangi permasalahan banjir ibu kota, pada tahun 2020 tercatat curah hujan terekstreme 377mm/hari. Namun banjir dapat surut lebih dari 95% genangan dalam waktu 96 jam. Surutnya banjir ini tercatat lebih cepat dari banjir di tahun-tahun sebelumnya, seperti yang terjadi di tahun 2015, dimana dengan curah hujan yang lebih rendah yakni 277 mm/hari, 95% wilayah tergenang baru dapat surut dalam waktu 168 jam.

 

Langkah Ganjar Pranowo Atasi Banjir Semarang dan Jawa Tengah Utara

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah sejak 23 Agustus 2013 dan menjabat hampir dua periode. Lantas langkah-langkah apa saja yang sudah dilakukannya untuk menanggulangi permasalahan banjir di Jawa Tengah. Sama seperti Jakarta, beberapa wilayah semarang juga berada dibawah permukaan air laut, sehingga biasa dikatakan Jakarta dan Semarang memiliki permasalahan yang sama dalam menanggulangi permasalahan banjir.

Untuk permasalahan banjir rob Gubernur satu anak ini secara gamblang mengakui belum memiliki solusi jangka panjang dalam mengatasi banjir rob yang terjadi di pesisir pantura. Melalui akun instagramnya, saat ini Ganjar dan jajarannya dalam menyelesaikan rob di kawasan Tanjung Mas, Kota Semarang dengan penanganan jangka pendek.

“Penanganan jangka pendek dengan menurunkan karung pasir dan pompa air telah kita lakukan,” tulis Ganjar dilansir dari suarajawatengah.id (24/05/2022).

Dalam postingannya ia mengakui pihaknya belum menemukan solusi jangka panjang untuk mencegah rob di kawasan pesisir utara.

“Sementara untuk jangka panjang telah kita kerjakan beberapa tahun ini dan belum selesai,” jelasnya.


 

Mengaku Permasalahan Banjir Sudah On The Track

Namun dilansir dari Tempo.co yang disampaikan oleh ahli Geodesi ITB Heri Andreas, penanganan rob dan banjir yang melanda pesisir Jawa Tengah diklaim sudah on the track.

“Penanganan rob dan banjir di Jateng ini sudah on the track. Upayanya sudah berlangsung bagus, namun tetap harus ada penguatan lagi agar lebih optimal,” katanya.

Kata Heri, sejumlah solusi menangani banjir baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang terus dilakukan oleh Pemprov Jawa Tengah. Salah satu upaya tersebut adalah pembangunan tanggul.

“Tanggul bisa menjadi solusi sementara untuk mengatasi rob dan banjir di Jawa Tengah.”

Ganjar mengaku penanganan rob dan banjir di Jawa Tengah memang persoalan yang tidak mudah. Sehingga masukan dari para ahli sangat dibutuhkan agar penanganan berjalan sesuai harapan.

“Saya senang atas masukan-masukannya. Saya sangat berharap ada rekomendasi langkah seperti apa, roadmapnya seperti apa. Agar penanganan ini berdasarkan data keilmuan,” ucap Ganjar.

Tentunya rakyat Jawa Timur tidak mengharapkan alibi yang dilontarkan oleh pemimpinnya, Mereka menanti kerja nyata untuk mendatangkan perubahan ke arah yang lebih baik. Dua periode kepemimpinan sepertinya kurang bagi Ganjar Pranowo untuk mengatasi permasalahan banjir yang melanda Jawa Tengah. Ganjar Pranowo akan purna tugas sebagai Gubernur pada 2023 dan apa yang sudah diperbuatnya untuk Jawa Tengah tetap membuahkan tanda tanya. Red

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anies dan Demokrasi Bau Amis

Mengetuk Pintu Langit

Sunny dan Surya Tjandra, Dua Kader PSI Yang Mendukung Anies Baswedan