Sunyi Sepi Politik Tahu Diri
Disampaikan Oleh : Yusuf Blegur (Ketua Umum BroNies)
Bagaimana
mungkin pemimpin yang tak tahu diri, bisa peduli dan memikirkan rakyatnya?.
Ditambah lagi banyak pejabat dan politisi, perlahan tapi pasti bertransformasi
menjadi penjahat. Kerusakan pada sistem dan orang, telah menjadi duet maut yang
menakutkan bagi upaya menghadirkan kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh
yang lemah, yang mendiami NKRI.
Ada
pergeseran yang begitu tajam terhadap
pemahaman tentang jabatan publik di republik ini. Para pemangku kepentingan
lebih senang melakoni tugasnya sebagai sebuah karir, bukan pengabdian.
Kehormatan, kewibawaan dan kebanggaan dari tanggungjawab yang diembannya lebih
dominan untuk mengejar materi ketimbang pelayanan masyarakat. Ada
ketidakseimbangan yang begitu kentara antara kesadaran ideal spiritualnya dengan
kesadaran rasional materilnya. Koleksi harta dan jabatan dalam upaya memenuhi
kesenangan dunia, mengalahkan keinginan memberi manfaat kepada khalayak
dari kedudukan yang dimilikinya.
Entah
sistemnya yang sudah rusak yang begitu memengaruhi moral dan mentalitas sumber
dayanya.
Atau
memang manusianya yang memang kering dari karakter dan integritas yang terpuji.
Sepertinya faktor sistem dan orang begitu kental menyatu, berkelindan dalam
tata kelola penyelenggaraan negara yang terus distortif. Saling memanfaatkan,
saling menguasai dan saling melindungi, menjadi potret paling nyata dari sebuah
tradisi perilaku kekuasaan yang "semau gue", "yang penting
gue" dan "demi gue." Masa bodoh dengan orang lain, ngga peduli
dengan urusan rakyat dan ngga mau tahu nasib negara bangsa ini.
Perangai
penuh kebohongan, mengambil yang bukan haknya dan tega membuat orang lain menderita
karena ulahnya, menjadi unsur dominan dari pengambil kebijakan yang dibesarkan
oleh citra dan kemasan yang molek. Tak peduli sebusuk apapun isinya yang
penting bungkusnya cantik, indah dan enak dipandang. Soal rasa, sudah bisa
dipastikan seperti apa dari aroma busuknya yang mengular meski ditutup-tutupi
serapi mungkin.
Kenikmatan
hidup yang bergelimang fasilitas dan kemewahan, mungkin menjadi motif utama
setiap orang berebut jabatan dan berupaya keras mempertahankannya. Tak peduli
cara apapun yang harus ditempuh, yang penting jabatan dan kekuasaan tetap
digenggamnya. Dengan cara halal atau haram tak masalah, asal yang menjadi
tujuan tercapai. Persetan dengan kinerja bobrok atau berprestasi, yang utama
tebal muka dan tebal kantong untuk sekedar memimpin lebih lama, betapapun
banyak yang muak untuk sekedar melihatnya.
Takut
kehilangan kenyamanan hidup yang mengandalkan materi sebagai tolok ukur
kebahagiaan. Membuat banyak orang terlebih para pejabat dan politisi, semakin
takut memiliki prinsip-prinsip sebagai manusia yang penuh kesederhanaan dan
menjunjung kemuliaan. Takut miskin karena kejujuran, dan takut tak dianggap
orang karena tak punya apa-apa, membuat banyak petinggi negara lebih suka
menjadi penjahat tapi terhormat, menganggap berjaya meski berbuat aniaya.
Susahnya
kalau buruk tapi ingin dianggap baik. Betapa ngeyelnya mengaku benar meskipun
sesungguhnya salah. Ketidakmampuan menghadirkan kemakmuran dan keadilan bagi
rakyat, diganti dengan gaya hidup borjuasi diri, keluarga dan kelompoknya. Aji
mumpung, mumpung punya jabatan, mumpung sadar dalam kekhilafan. Meskipun
mengetahui hitam putihnya, jalan sesat
atau jalan lurus, persetan dengan semua itu, yang penting asyik mudharatnya.
Tak
berdaya karena kelemahannya, berusaha selamat dengan menjual harga diri sembari
ingin tetap berkuasa. Menjegal bila ada yang mengganggu, kalau perlu membunuh
jika ada yang mengancam kepentingan dan keselamatannya. Sebuah kepalsuan yang
ingin tampil seolah-olah nyata, sebuah kebohongan yang ingin diakui dan
dipaksakan kebenarannya. Seperti sulitnya menemukan pemimpin yang mengenal
hakikat dirinya, seperti sulitnya mencari pejabat dan politisi yang tahu diri.
Negeri yang begitu sunyi sepi politik tahu diri.
Dari pinggiran catatan labirin kritis
dan relung kesadaran perlawanan.
Bekasi Kota Patriot.
11 Desember 2022/17 Jumadil 1444 H.

Komentar
Posting Komentar