Pemilu Berintegritas, Atau Gagalkan Pemilu?
Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, (Sabang Merauke Circle)
Jokowi
dalam acara rakernas KPU tiga hari lalu mengungkapkan perlunya pemilu 2024 yang
berintegritas. Penyelenggara pemilu membuat pemilu yang jurdil (jujur dan adil)
serta mengawal terjadinya adu gagasan, bukan adu domba.
Pada
hari yang sama, dalam acara CEO Forum di Istana Negara, Mahfud MD memastikan
pemilu akan terus berlangsung sesuai dengan rencana. Hal ini menurutnya untuk
memberikan kepastian politik bagi dunia usaha agar tidak memunculkan
keragu-raguan.
Seberapa
jauh kita percaya pernyataan pemerintah ini?
Baru
saja beberapa saat lalu, dalam acara HIPMI yang di buka Jokowi, di Solo, ketua
plt. HIPMI dan Ketua DPD-RI menyampaikan gagasan perlunya perpanjangan masa
jabatan Jokowi. Bahlil, menteri investasi, yang merupakan sosok penting di
acara HIPMI itu memang tidak menyinggung soal perpanjangan masa jabatan
presiden, tapi semua rakyat tahu bahwa Bahlil adalah pelontar pertama dan
paling progressif dalam usulan perpanjangan masa jabatan Jokowi itu.
La
Nyalla sendiri menyampaikan pernyataan mendukung perpanjangan masa jabatan
Jokowi ditenggarai setelah bertemu dengan kalangan elit penguasa, meskipun
kepada saya dia menyatakan karena kehendak Allah mengalir begitu saja dari
mulutnya.
Spekulasi
banyaknya elemen-elemen pendukung kekuasan Jokowi yang masih menginginkan
perpanjangan masa jabatan Jokowi menjadi pembicaraan umum dikalangan politik di
Indonesia. Sehingga tingkat kepercayaan atas pernyataan Jokowi dan jajarannya
tentang kepastian adanya pemilu masih diragukan.
Mari
kita amati argumentasi penundaan pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden
yang pernah ada. Pertama, alasan Bahlil adalah para pengusaha baru mulai
bangkit usahanya dari terpaan pandemi covid-19. Mereka takut pemilu atau pesta
demokrasi 2024 akan membuat suasana kurang kondusif bagi dunia usaha.
(investor.id, 9/1/22).
Kedua,
3 pimpinan partai pendukung Jokowi memberikan pernyataan mendukung perpanjangan
masa jabatan Jokowi, yakni Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB)
dan Zulkifli Hasan (PAN). Ketiganya meyakini bahwa perpanjangan masa jabatan
tersebut merupakan aspirasi rakyat dan baik bagi momentum perbaikan ekonomi
nasional.
Ketiga,
La Nyalla mendukung perpanjangan dengan argumen Jokowi kehilangan masa kerja
dua tahun pada masa pandemi covid 19. Sehingga wajar Jokowi diberikan
kompensasi perpanjangan. Isu yang dihembuskan La Nyalla ini menghidupkan
kembali isu perpanjangan masa jabatan setelah beberapa lama meredup.
Ketiga
kelompok pendukung di atas sebenarnya tidak mempunyai dasar yang kuat, kecuali
hanya ingin melawan konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden. Dengan
demikian kita hanya bisa melihat adanya penggerak-penggerak pendukung masa
jabatan yang melawan keinginan Jokowi, yang tidak ingin menunda pemilu atau
bisa muncul dugaan Jokowi bermain "dua kaki". Pernyataan Mahfud MD di
depan CEO Forum dan sebelumnya pernyataan Jokowi di majalah "the
Economist" tentang kepastian berakhirnya masa jabatan presiden Jokowi
merupakan angin segar bagi demokrasi kita, jika Jokowi dan jajarannya tidak
memperlihatkan manuver-manuver sesat penundaan pemilu lagi.
Dua Tantangan Jokowi
Keinginan
Jokowi untuk membuat pemilu berintegritas, khususnya jurdil dan bebas politik
uang, merupakan tantangan terbesar bangsa ini. Tantangan kedua adalah ketulusan
Jokowi untuk melepas pilihan presiden ke depan pada kehendak rakyat. Tantangan
pertama di atas terkait dengan politik kita yang memang dicengkeram oligarki,
baik modal maupun partai. Bahkan feodalisme politik. Sudah lama kita ingin
kembali kepada politik yang berbasis nilai (value) untuk menghasilkan elit
bangsa yang bebas dari kepentingan apapun selain "national and nation
interest". Sayangnya, biaya politik yang sangat besar serta penuh
transaksional membuat calon-calon dengan kekuatan gagasan/ide tersingkir sejak
awal. Bahkan, lebih parah lagi, terjadi dominasi pemilik modal dalam berbagai
jenjang politik, baik di parlemen, partai mauoun maupun pemerintahan.
Jika
Jokowi ingin kata-katanya tentang pemilu berintegritas terjadi, maka sumbangan
terbesar yang bisa dilakukan Jokowi adalah memastikan aparatur keamanan netral
dalam pemilu. Ini pernah dilakukan SBY ketika tidak memberikan dukungan
terhadap besannya, Hatta Rajasa, sebagai kandidat Cawapres 2014. Kontribusi
lainnya bisa dilakukan Jokowi jika dalam Perppu UU Pemilu nantinya, selain
masalah adanya dapil baru yang harus diakomodasi, juga mempertimbangkan
penurunan PT (Presidential Threshold) 20%. Sebab, sebagai mana membaca pikiran
Mahfud MD ketika menanggapi Rizal Ramli, beberapa waktu lalu, mengatakan
sebaiknya PT dikurangi di bawah 10%. PT yang terlalu tinggi akan membuat
tokoh-tokoh nasional terhambat untuk maju sebagai kandidat presiden ke depan.
Tantangan
terkait ketulusan Jokowi harus benar-benar ada. Argumen-argumen perpanjangan
masa jabatan maupun presiden 3 periode tidaklah kuat sama sekali. Megawati juga
merasakan tidak penuh periodenya, 5 tahun, sebagai presiden dahulu. SBY juga
setahun lebih sibuk hanya mengurus bencana Aceh dan perundingan Helsinki.
Namun, SBY tidak mengeluh. Ketulusan lainnya terkait dengan dukungan presiden
berikutnya. Jika memang perlu adu gagasan dalam bayangan Jokowi untuk pesta
demokrasi yang baik, maka harus dipastikan calon yang ada bukan yang homogen
loyalis Jokowi, seperti Ganjar dan Prabowo serta cawapres yang disiapkannya.
Justru adu gagasan akan terjadi dalam kondisi capres yang bahkan berbeda visi.
Jokowi mungkin menginginkan "legacy", seperti meneruskan IKN (Ibukota
Negara), tapi SBY juga dulu mengharapkan MP3EI, program andalan SBY,
ditindaklanjuti. Namun, faktanya Jokowi tidak menindaklanjuti program SBY. Jadi
sangat wajar dalam demokrasi seorang pemimpin baru mempunyai perbedaan dengan
pemimpin sebelumnya. Yang terpenting adalah gagasan itu legal, diuji publik dan
bertujuan pada kebangkitan nasional, baik ekonomi, politik dan kesejahteraan
rakyat.
Jika
Jokowi tidak mampu menghadapi dua tantangan di atas, setidaknya Jokowi patuh
pada konstitusi dengan mengikhlaskan diri bahwa setiap kekuasan ada akhirnya.
Lepaskan calon pemimpin ke depan pada kompetisi sempurna, tidak perlu
intervensi dengan beri isyarat "rambut putih" atau "wajah
keriput " untuk didukung ke depan.
Penutup
Pernyataan
Jokowi tentang perlunya pemilu berintegritas dan adu gagasan, tahun 2024 serta
pernyataan Mahfud MD tentang kepastian pemilu pada tahun 2024 di hadapan CEO
Forum, setidaknya memberi angin segar pada demokrasi kita. Sebagian kekuatan
tentu akan berusaha mendorong pemili gagal dengan isu perpanjangan jabatan
Jokowi. Bisa jadi Jokowi terlibat, bisa juga tidak. Namun, kita sebagai rakyat
harus terus memantau langkah-langkah penguasa saat ini agar jangan melanggar
konstitusi.
Tantangan
bagi Jokowi adalah mengikhlaskan diri bahwa semua kekuasan ada batas akhirnya.
Untuk mendorong adanya kompetisi bukan konfrontasi maka Jokowi harus menjauhkan
diri dari dukung mendukung capres tertentu, sehingga capres/cawapres yang
muncul menjadi homogen dan tidak memiliki energi mengadu gagasan. Waktu tidak
terlalu lama lagi untuk pemilu. Kepastian siklus pergantian kekuasan bukan
hanya dinanti kalangan CEO kapitalis, tapi juga rakyat jelata. Karena demokrasi
adalah milik semua rakyat. Jangan sampai pemilu gagal.

Komentar
Posting Komentar