Ibu, Inspirasi dalam Kehidupan Anies Baswedan
Oleh : M Chozin Amirullah, (pengamat dan aktivis kerelawanan)
Setiap
22 Desember, kita memperingati Hari Ibu. Setiap orang memiliki pengalaman
berbeda-beda dalam memperingati dan memaknai Hari Ibu. Namun, banyak sekali
anak-anak terinspirasi hidupnya oleh sosok ibu. Anies Baswedan salah satunya.
Prof.
Dr. Aliyah Rasyid Baswedan, M.Pd., ibu Anies Baswedan, adalah seorang dosen dan guru besar emeritus di
Universitas Negeri Yogyakarta. Prof. Aliyah menjadi dosen sejak tahun 1965.
Selain itu, dia juga aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Jogja.
Salah satunya adalah penyaluran beasiswa bagi siswa dan mahasiswa dari keluarga
prasejahtera.
Ibu
Aliyah mendirikan Yayasan Orbit Yogya untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa,
terutama dari luar Jawa yang kuliah di Jogja. Yayasan itu tidak hanya
memberikan beasiswa tetapi juga memberikan pembimbingan dan pelatihan serta
pengembangan jaringan dan informasi.
Karier
dan aktivisme Aliyah, ternyata menjadi inspirasi bagi Anies Baswedan untuk
mengikuti jejak sang ibu. Anies, juga tumbuh dan besar di dunia pendidikan. Ia
pernah menjadi dosen dan rektor di Universitas Paramadina.
Aktivitasnya
di bidang pendidikan tidak dibatasi oleh ruang kelas dan gedung kampus. Seperti
ibunya, Anies juga aktif memajukan dunia pendidikan dan menjalankan
kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Indonesia
Mengajar adalah gerakan yang diinisiasi oleh Anies Baswedan. Gerakan ini
mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia ikut mendorong peningkatan
kualitas pendidikan di Indonesia.
Sejak
berdiri pada 2009, Indonesia mengajar sudah mengirim 1.157 Pengajar Muda ke
berbagai lokasi terpencil di Indonesia. Aktivitas Pengajar Muda di berbagai
daerah di Indonesia telah melibatkan lebih dari 106 ribu orang dengan interaksi
lebih dari 38 juta kali.
Ada
akselerasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai daerah, sejak program
Indonesia Mengajar digulirkan. Berbagai elemen saling berkolaborasi dan bekerja
sama untuk memenuhi cita-cita para founding fathers, yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Aktivitas
sosial dari Aliyah, juga menginspirasi Anies Baswedan, sehingga menginisiasi
gerakan TurunTangan. Gerakan ini melakukan inkubasi untuk kegiatan-kegiatan
yang disiapkan untuk pegiat sosial di daerah. Jargon TurunTangan: “Pejuang
Bukan…? HADAPI!” adalah pesan kuat dari Ibunda Aliyah ketika menghadapi
masalah.
Gerakan
TurunTangan telah mencatat keikutsertaan lebih dari 53.000 orang relawan. Basis
aktivitasnya meluas hingga ke 77 daerah di seluruh Indonesia. Aktivitas gerakan
TurunTangan sangat beragam, khususnya di bidang pendidikan, sosial kemanusiaan,
lingkungan, kesehatan, dan pendidikan politik.
Tidak
hanya berasal dari ibunya, Anies ternyata juga terinspirasi dari aktivisme dari
neneknya, bernama Ibu Barkah. Nenek Anies Baswedan adalah aktivis perempuan pada
zamannya. Ibu Barkah turut terlibat dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan
pertama di Jogja tahun 1928.
Sang
nenek waktu itu hampir gagal berangkat di Tegal menuju ke Jogja. Tentara
Belanda melarang para Barkah dan teman-temannya untuk berangkat ke Jogja.
Namun, Barkah tak gentar. Bersama teman-temannya mereka melawan dengan cara
berbaring di atas rel yang akan dilewati kereta api.
Di
bawah terik matahari, di depan moncong lokomotif mereka pasang badan:
“berangkatkan kami atau matikan kami.” Akhirnya tentara Belanda menyerah pada
kegigihan para emak-emak itu, dan membolehkan berangkat ke Jogja.
Kongres
Perempuan pertama tersebut diadakan pada 22-25 Desember 1928. Hari pertama
Kongres tersebut kemudian kita peringati sebagai Hari Ibu, tiap tanggal 22
Desember. Di situlah disuarakan kesetaraan dan perubahan, dalam perjuangan
mewujudkan cita-cita Indonesia.
Selamat
Hari Ibu! Selamat Hari Emak-emak kabanggaan Indonesia.

Komentar
Posting Komentar