Capres atau Presiden Gagal?
Disampaikan Oleh : Yusuf Blegur (Ketua Umum BroNies)
Sungguh
kasihan Jokowi, jadi presiden sering tidak dihargai dan dihormati rakyatnya
sendiri. Betapapun banyak bicara dan kerja, tetap dianggap gagal. Belum pernah
ada presiden di Indonesia yang selama masih menjabat, terlalu banyak jadi bahan
lelucon dan olok-olokan. Tanpa wibawa,
tanpa respek dan kerap dianggap rendah sekalipun menjadi orang nomor satu di
republik ini.
Sudah
tak terhitung pernyataan Jokowi yang bukan saja
penuh kontroversi dan diselimuti polemik. Saking tidak sesuai dengan
kenyataannya, omongan Jokowi selalu disikapi skeptis dan apriori oleh rakyat.
Bahkan tak sedikit pandangan publik yang menilai Jokowi sebagai seorang
pembual. Bukan hanya janji-janji yang diingkari, bahkan sekedar menyampaikan
informasi saja sering salah atau tak sesuai faktanya.
Belum
hilang ingatan publik terhadap himbauan presiden soal hidup sederhana dan
prihatin terhadap kemungkinan adanya resesi ekonomi. Justru Jokowi sangat
antusias mengadakan pesta pernikahan anaknya Kaesang secara mewah dan begitu
berlebihan. Bukan hanya sangat mahal dan tak etis, tapi juga tak sepantasnya
melibatkan aparat keamanan dalam jumlah besar. Seperti Indonesia ingin
mengadakan operasi ganyang Malaysia jilid 2, meneruskan aksi militer yang
pernah dilakukan Soekarno di masa lalu.
Di satu sisi Jokowi yang bicara apa, di lain sisi presiden yang berkuasa
bertingkah apa. Jadi terlihat tak punya sensitifitas dan kepedulian terhadap
keadaan rakyat yang kehidupannya semakin terpuruk, begitulah salah satu contoh
Jokowi menuai kecaman rakyat saban harinya.
Baru-baru
ini, Jokowi berulah lagi dengan menyatakan kegelisahannya soal ia dituduh
intervensi atau ikut campur soal capres dan urusan pilpres 2024. Ini pernyataan
yang sebenarnya ngga penting untuk diungkapkan, malah membuat Jokowi semakin
kelihatan ngga konsekuen. Semakin kentara jago ngeles kaya bajaj, Jokowi
seperti asyik dengan omongan dan sikapnya yang semau gue. Benar kata politisi
partai Demokrat, harusnya Jokowi tenang saja, kecuali telah ikut-ikutan ngurusi
capres.
Jokowi
sepertinya sedang berpura-pura tidak ingat atau mungkin juga masa bodoh dengan
sebelumnya yang sering mengendorse capres-capres tertentu. Dari yang implisit
seperti rambut putih dan kerut di wajahnya. Hingga yang eksplisit langsung
mengarah mendukung Ganjar Pranowo dan Erik Tohir hingga Prabowo Subianto.
Presiden 2 periode yang diasosiasikan sebagai boneka oligarki itu, terlalu
percaya diri dan sedang giat menyiapkan boneka oligarki yang lain seandainya
menjadi boneka oligarki 3 perode gagal diwujudkan. Menjadi terbiasa
berorientasi kepada oligarki bukan kepada rakyatnya, membuat Jokowi terlalu
menyolok mendukung capres tertentu dan menolak capres yang lainnya. Termasuk
membuat prediksi ada capres yang tidak dapat kendaraan politik alias gagal
nyapres gegara tidak disukainya, meskipun pada akhirnya omongannya dibantah
sendiri.
Kenapa
bisa dibilang Jokowi yang paling sering ngelantur terutama keluar dari tugas
dan jabatan pokoknya sebagai presiden?. Hal-hal remeh-temeh yang ngga ada
hubungannya dengan negara dan kepentingan publik sering ditanggapi. Namun
masalah-masalah besar, penting dan strategis sering diabaikan. Karena ulahnya
sendiri Jokowi kini semakin kehilangan kepercayaan sebagian besar rakyatnya.
Bahkan dengan beberapa pernyataan politik baik yang berupa sekedar himbauan
ataupun kebijakan publik belakangan ini. Rakyat mulai berani menunjukan sikap
protes, menentang dan bahkan melawannya. Entah terlalu banyak kepentingan
dengan capres dan pilpres 2024 atau memang sudah menjadi agenda politik Jokowi.
Apapun itu kini Jokowi mengelak saat dinilai publik melakukan intervensi atau
terlalu banyak mengatur urusan capres dan pilpres yang bukan jadi prioritasnya.
Tidak
dengan kekuatan oposisi, tidak dengan adanya people power atau bahkan tidak
karena terjadi revolusi sekalipun. Jokowi sesungguhnya tengah menelanjangi
dirinya sendiri. Membuka aibnya sendiri, karena tidak satunya antara kata dan
perbuatannya. Hari ini bilang A, bedok bilang B dan seterusnya Jokowi tidak
komit dan konsisten dalam banyak hal. Tinggal rakyat yang menerima dampaknya,
akibat ketidak-cakapan pemimpinnya, bukan cuma sistem yang rusak, orang-orang
disekelilingnya juga rusak. Akibat semua itu rakyat harus hidup menderita
karena presidennya jauh dari harapan rakyat.
Tak
kunjung menghadirkan negara kesejahteraan yang menjamin kemakmuran dan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jokowi justru membuat kehidupan rakyat
semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Hanya ada distorsi
penyelenggaraan negara termasuk membunuh demokrasi dan menghianati amanat
rakyat dan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tak mampu menghibur, tak
cukup membuat tertawa karena kelucuannya, Jokowi yang sempat melontarkan
prediksi ada capres gagal karena tak dapat kendaraan politik. Justru Jokowi
dihadapkan pada kenyataan dirinya telah menjadi presiden yang gagal.
Dari pinggiran catatan labirin kritis dan relung kesadaran perlawanan.
Bekasi Kota Patriot.
23 Desember 2022/29 Jumadil Awal 1444 H.

Komentar
Posting Komentar