KTT Asean, G20 dan Perubahan Politik Jokowi
Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)
Alhamdulillah
Jokowi telah memastikan bahwa dia akan lengser 2024 dan kembali ke Solo.
Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, 13/11/22 dalam judul "Jokowi Beber
Rencana Setelah Lengser: Pulang Ke Solo Jadi Rakyat Biasa", mengutip
wawancara Jokowi dengan The Economist, majalah ekonomi terbesar di eropa,
selain lengser, Jokowi juga akan menjadi aktifis lingkungan.
Pernyataan
Jokowi ini sangat penting bagi kita sebagai pegangan bahwa berbagai upaya yang
dilakukan pendukungnya selama ini melalui isu perpanjangan jabatan maupun isu
presiden 3 periode ditepis Jokowi. Kita dapat menghentikan kecurigaan kita pada
Jokowi sebagai "mastermind" isu perpanjangan selama ini dan dapat
mengalihkan tuduhan kepada orang-orang terdekatnya, jika isu itu muncul lagi
nantinya.
Perubahan
sikap Jokowi ini mungkin terkait dengan aktifitas internasional Jokowi
hari-hari ini yang terlalu berat, baik dalam skala Asean maupun G20. Jokowi
dalam KTT Asean dan selanjutnya sebagai ketua Asean telah menunjukkan sikap
keras terhadap rezim junta Militer Myanmar. Bulan lalu Asean tidak membolehkan
wakil Junta hadir kecuali dihadiri juga oleh pihak oposisi, dalam bahasan batas
akhir dialog Junta dan oposisi. Myanmar mengutuk pemerintah Indonesia sebagai
"anjing peliharaan" Amerika (CNBC Indonesia, 28/10/22). Dengan
berubahnya sikap Jokowi yang semula ragu mengutuk Junta di sana, Asean akhirnya
mayoritas dalam genggaman mainstream global order, yang menghargai demokrasi
dan anti pelanggaran HAM.
Pergumulan
kedua Jokowi soal demokrasi terkait dengan Putin. Pada bulan Agustus (19/8/22),
Jokowi melakukan "self claim" bahwa Putin akan hadir pada G20.
Padahal kedutaan besar Rusia di Jakarta maupun sekretaris/jubir Putin tidak
memberikan informasi itu. Setidaknya jika kita merujuk pada media yang memberitakan.
Jokowi sepertinya sangat berharap Rusia hadir. Bahkan, Jokowi mengambil resiko
pergi ke Ukraina dan lalu ke Rusia tempo hari untuk mengundang Putin, selain
Zelensky, presiden Ukraina. Namun, seiring waktu, dengan tekanan barat yang
tidak menghendaki kehadiran Putin di G20 Bali, Jokowi terkesan tidak kecewa.
Setidaknya tidak diungkapkan oleh Jokowi atau jika merujuk pada statemen LBP
bahwa tidak masalah jika tidak ada Komunike Pemimpin Dunia di G20 (CNBC
Indonesia, 12/11/22).
Myanmar
dan Rusia adalah sekutu Peking/RRC. Sikap Jokowi yang terkesan berubah penting
dicatat karena selama ini Jokowi menjadi "anak emas" RRC. Bahkan,
sampai detik-detik terakhir sebelum G20, Jokowi berharap KCIC (Kereta Cepat
Jakarta China) Bandung-Jakarta dapat diresmikan Xi Jin Ping, di sela
kunjungannya ke Indonesia.
Kita
bersyukur melihat Jokowi berubah ke arah blok global order yang mementingkan
demokrasi dan HAM. Namun, Jokowi tidak bisa terlalu lama di tengah. Sebab,
China dan Rusia pasti akan mengevaluasi posisi Jokowi terhadap afiliasinya
selama ini.
Spekulasi
pertama yang terlihat adalah batalnya rencana Xi Jin Ping meresmikan projek
kereta cepat pertama di Asean ini. Bukan hanya tidak meresmikan, isu kereta
cepat saat ini malah sudah kehabisan dana operasional, sehingga projek akan
mangkrak, jika tidak ada suntikan negara kita. Padahal selama ini pemerintah
China berencana memberikan bantuan besar tanpa resiko APBN kita.
Spekulasi
kedua adalah kemungkinan Indonesia tidak akan dimasukkan dalam BRICS, sebuah
persekutuan negara ekonomi alternatif. Padahal, selama ini Indonesia mempunyai
kesempatan untuk bisa bergabung dengan BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan
South of Africa), sehingga memperkuat posisi tawar Indonesia dalam global
order.
Penutup
KTT
Asean dan G20 membawa perubahan sikap
Jokowi atas isu perpanjangan masa jabatan Presiden. Jokowi telah
mengatakan akan lengser dan menjadi pecinta lingkungan, pada tahun 2024.
Padahal selama ini Jokowi mengapresiasi kelompok-kelompok anti demokrasi yang
menyuarakan perpanjangan masa jabatan dan atau 3 periode Jokowi sebagai bagian
demokrasi. Dalam hubungannya dengan Myanmar dan Putin, Jokowi memperlihatkan
sikap anti kekerasan, khusus soal Putin, setidaknya tidak mengatakan kecewa
atas ketidak hadiran Putin.
Kita
berharap Indonesia dapat berperan besar dalam G20. Selain sebagai "event
organazer", Indonesia dapat membicarakan keadilan tatanan global dan
solidaritas. Paska pandemi seluruh dunia mengharapkan adanya order global, yang
selama ini dikuasi barat dengan perspektif barat sentris, ke arah dunia yang
multipolar dan menekankan kebersamaan.
Semoga
Jokowi benar-benar pro demokrasi dan lalu mengkoreksi berbagai kebijakannya
yang selama ini terlalu banyak melakukan kriminalisasi ulama, aktifis politik
dan tokoh-tokoh lingkungan.

Belum bisa dipercaya omongan si anu
BalasHapus