Bunuh Saja Lalu Minta Maaf
Oleh: Yusuf Blegur (Ketua Umum BroNies)
Ini kisah tentang suatu
negeri yang manusianya tak lagi diperlakukan manusiawi. Saat binatang liar dan
buas sekalipun, dididik untuk bertingkah
jinak dan bersahabat layaknya mahkluk
berakal dan berbudi pekerti. Sementara manusia diintai, terancam, diterkam dan dianiaya tak ubahnya
binatang buruan. Pembunuhan begitu mudah
dipertontonkan oleh bahasa dan perilaku kekuasaan, kalaupun tetap hidup manusia
kehilangan kehormatan dan harga dirinya. Terampas haknya, menjadi tak berarti
dan sia-sia sebagai korban dari eksploitasi kebinatangan manusia.
Ada sebuah negara bangsa
yang sering mengaku berasal dari peradaban besar dan kebudayaan adi luhung.
Terkenal dengan tradisi ketimuran, religius dan berahlak mulia. Selain
patriotisme dan nasionalisme yang menyejarah, nenek moyangnya mewarisi
keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan. Tepo seliro dan toleransi yang
tinggi menjadi urat nadi dari karakteristik sifat gotong royong yang mengokohkan kebhinnekaan
dan kemajemukan populasinya. Itulah corak dan ornamen yang pernah ada pada
sebuah negara bangsa, yang sepertinya telah menjadi fosil dan berangsur-angsur
punah dan mulai menjadi dongeng. Cerita
sebuah bangsa yang berubah dari nilai-nilai hakiki menjadi ironi, dari
kekuatan Ilahi menjadi kekuasaan oligarki.
Dasar negara dan falsafah
bangsa begitu indahnya disusun sebagai konsensus nasional. Konstitusi tersusun
rapi dan sistemik, sebagai sebuah pijakan bercengkeramanya anak bangsa.
Simbol-simbol dan jargon sungguh memesona rakyat yang telah peluh dan berdarah berhimpun
dalam kesatuan semangat mempejuangkan, memelihara dan mengisi kemerdekaan. Tapi
semua itu hanya sebuah awal dari cita-cita meraih sebuah negara kesejahteraan,
yang terus meredup, terasa seperti mimpi dan berujung uthopis. Nilai-nilai kaya
spiritualitas itu, pada akhirnya tercerabut dari jiwa dan sanubari manusianya.
Bagai zombi yang mengerikan, penduduk negeri yang diklaim gemah ripah loh
jinawi menjadi rakus dan ganas berebut makanan. Bagai separuh manusia dan separuh monster atau iblis, pada akhirnya
sesama warga negara itu saling memangsa.
Kapitalisme dan komunisme
berkolaborasi menjadi panduan dan gaya hidup sebagian besar rakyatnya. Agama
sebatas status sosial dan keyakinan kepada Tuhan sekedar basa-basi. Negara
dikuasai bromocorah, menjadi sarang penyamun dan menjadi habitatnya kumpulan
kebiadaban. Negara ketika pemahaman
spiritualnya rakyatnya hanya
nenghasilkan bangsa yang beragama tapi tak bertuhan. Harta, tahta dan wanita
telah menjadi tujuan hidup yang begitu diagung-agungkan dan dimuliakan.
Kemunafikan terbungkus ambisi, penghianatan menghiasi siasat. Keduanya menjadi
standar memenuhi kepuasan batinnya. Tak peduli
bagaimapun dan dengan cara apapun dilakukan untuk meraihnya. Meneteskan
air mata, menumpahkan darah dan menghilangkan nyawa, seakan menjadi cara yang
biasa dan lumrah untuk mengejar nafsu dunia. Meskipun harus dengan
menghilangkan kemanusiaan dalam dirinya dan membiarkan determinasi setan begitu
dominan mengendalikan syahwatnya.
Tragedi demi tragedi,
pembunuhan demi pembunuhan terus berjaya menampilkan karakter kekuasaan. Darah
rakyat tak pernah berhenti tumpah dan mengalir di bumi pertiwi. Membasahi
panggung-panggung politik, menyirami kantor-kantor insitusi negara, tampias ke
pemukiman kumuh rakyat, hingga menyeruak
ke stadion sepak bola. Selalu saja ada kekejian dan kebengisan di setiap
pelosok dan sudut-sudut sempit sekalipun dalam ruang publik. Selalu ada
kesempatan dan momentum rakyat meregang
nyawa kapan dan di mana saja. Nusantara memang telah menjadi tempat yang penuh
mistik, horor dan mengerikan karena
politik dan hukum telah bersekutu dengan iblis. Sifat-sifat iblis yang mewujud
perangai manusia dalam peran dan aksi aparatur penyelenggara negara. Seperti Dolores O'Riordan seorang musisi kenamaan
asal Irlandia dan vokalis The Cranberries yang melantunkan lagu Zombie. Seakan mengesankan negara telah menjadi
penjara paling brutal bagi rakyat yang lemah dan tertindas. Seiring itu,
aparatnya berfungsi sebagai mesin pembunuh yang paling efisien dan efektif.
Kini, rakyat hanya bisa
pasrah menerima kenyataan bahwa
kemanusiaannya telah disingkirkan. Berjibaku menuntut sekedar kelayakan hidup,
atau bermimpi yang lebih tinggi lagi tentang kemakmuran dan keadilan. Tak lagi
dapat berharap pada manusia, hanya keyakinan pada kebesaran kekuasan Tuhan yang mutlak menjadi solusinya. Sembari
menunggu kebenaran itu akhirnya dapat memenangkan pertarungan melawan
kejahatan. Rakyat hanya bisa menyaksikan dan merasakan penderitaan
berkepanjangan. Terlebih ketika korban jiwa rakyat begitu marak dan menggejala,
saat dimana-mana terdapat kematian baik secara personal maupun massal.
Pembunuhan karena motif politik dan semata-mata demi
kepentingan merebut dan mempertahankan kekuasaan. Setelah rakyat jatuh
berserakan dan mayatnya bergelimpangan. Cukup dengan kata-kata maaf dan
pemberian hadiah dan kompensasi, semua maslah selesai.
Begitulah praktek-praktek
kekuasan mengemuka dan jadilah negeri ini dipenuhi drama dengan lakon, bunuh
saja lalu minta maaf.
Catatan
pinggiran dari labirin kritis dan relung kesadaran perlawanan.
Bekasi
Kota Patriot.
11
Oktober 2022/15 Rabi'ul Awal 1444 H.

Komentar
Posting Komentar