Aksi Massa Gerubuk KPK, Kordinator PEREKAT: KPK Mandul Untuk Kasus Besar
Broniesupdate, Jakarta --- Kemarin Pergerakan Elemen Rakyat (PEREKAT), Gerakan Rakyat Melawan (GERAM), ormas BANG JAPAR dan beberapa relawan Anies melakukan aksi damai di depan gedung merah putih KPK di Kuningan (03/10/2022). Aksi yang salah satu tuntutannya adalah agar ketua KPK Firli Bahuri menghentikan upaya mengkriminalisasi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait dugaan korupsi balap mobil listrik Formula E karena berpotensi menimbulkan kegaduhan politik.
Kordinator aksi GARANG
Bintang Mangkauk mengatakan dalam proses penyelidikan kasus dugaan korupsi
Formula E, sebagian penyelidik telah membantah
terdapat tindak pidana dan penyalahgunaan jabatan yang dilakukan Anies Baswedan
sebagai Gubernur DKI Jakarta terkait perhelatan Formula E pada 4 Juni 2022
lalu. Bintang menuding Firli Bahuri telah bermain politik praktis. Karena Firli
Bahuri ditengarai hendak mengkriminalisasi Anies Baswedan agar tidak bisa maju
pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang.
“Berbahaya jika KPK ditarik ke wilayah politik praktis. Jika memang tidak suka dengan Pak Anies, silakan saja. Tapi perlu diingat untuk maju menjadi calon Presiden RI sesuai persyaratan UU adalah hak warga negara RI,” ungkapnya.
Senada dengan Bintang
Mangkauk, kordinator aksi PEREKAT M. Nadim mengatakan ketua KPK harus objektif
dalam menangani kasus korupsi dan bertindak berdasarkan bukti-bukti dan
keterangan dari para pakar hukum pidana.
“Firli harus
mengedepankan objektivitas dalam menangani suatu kasus korupsi bukan
subjektivitas dan bekerja berdasarkan bukti dan keterangan penelidik” Ungkap
Nadim dalam wawancara wartawan broniesupdate.
Dalam
aksi mereka membentangkan sejumlah spanduk yang antara lain beruliskan
“Sadarlah KPK! Hentikan Tebang Pilih Kasus”, “KPK Tak Peka, KPK Jadi Petaka”, “Garang
Firli (Gerakan Rakyat Menentang Firly)”, dan “Save Anies Baswedan” massa
berorasi secara bergantian menyuarakan tuntutan mereka.
“Aksi ini bukan aksi
membela Anies semata, tapi kami sangat prihatin dengan kinerja KPK, sebagai lembaga
yang harusnya independen kenapa mandul dalam mengusut kasus-kasus yang menggaet
pejabat dan petinggi parpol. Contohnya kasus korupsi E-KTP yang melibatkan Puan
dan Ganjar sudah sampai mana, Kasus anak Presiden sudah sampai mana, kita
sebagai rakyat tidak tahu.” Tegasnya.
Aksi yang dihadiri dari
beberapa elemen masyarakat ini membawa empat poin tuntutan sebagai berikut:
(1) Hentikan
siasat jahat KPK dibawah kepemimpinan Firli Bahuri, dalam upayanya memaksakan
untuk mengkriminalisasi Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan agar ditetapkan sebagai
tersangka kasus dugaan korupsi Formula E, karena ini dikhawatirkan akan
berpotensi terjadi kegaduhan politik yang mengganggu ketertiban umum dan untuk
menyongsong Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.
(2) Mendorong
KPK agar segera menyelesaikan kasus-kasus besar korupsi yang sampai saat ini
mangkrak tidak ada kejelasan dalam proses penyelidikan, sehingga terkesan KPK
melakukan pembiaran terhadap kasus-kasus tersebut.
(3) Meminta
KPK agar tidak tebang pilih kasus korupsi, dimana kasus-kasus yang melibatkan
para pejabat rezim pemerintah, yang jelas-jelas terlihat indikasi terjadinya
korupsi justru dibiarkan.
(4) Bila tuntutan-tuntutan ini tidak dapat dipenuhi, kami meminta ketua KPK Firli Bahuri untuk dicopot dari jabatannya karena dinilai tidak becus dalam menjalankan amanat rakyat Indonesia dalam menciptakan kondisi negara yang bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme.
Nadim menjelaskan tujuan mendasar dari aksi yang digelar adalah untuk mengingatkan KPK sebagai lembaga tinggi negara yang pengemban supremasi hukum dan sebagai elemen penting dalam mewujudkan ketentraman rakyat.“Tujuan dilaksanakan aksi ini tidak lain untuk menciptakan suasana yang kondusif dimasyarakat, dan sudah menjadi tugas KPK sebagai salah satu lembaga tinggi Negara yang independent bebas dari campur tangan siapapun untuk mengemban amanat rakyat dalam memberantas korupsi, bukan justru menggunakan wewenangnya untuk melancarkan agenda-agenda oligarki untuk menjarah negeri ini.” Pungkas M Nadim. Red




Komentar
Posting Komentar