Ketum PSSI Ikut Pilkada Jabar, Tapi Mau Stadion Gratisan
Oleh: Yusuf Blegur (Ketua Umum BroNies)
Rupanya, suara sumbang
Ketum PSSI soal JIS bagai ada Udang dibalik batu. Selain ikut-ikutan rezim melontarkan narasi bersayap dan
tendensius ke Anies. Mantan Kapolda Metro Jaya itu mereduksi JIS dengan
menyembunyikan hasratnya dalam kampanye cagub Jabar, sembari mengharap penggunaan stadion gratis. Ingin mengikuti Edi Rahmayadi
yang sukses menduduki gubernur Sumut. Iwan Bule lupa kalau dia, dari intitusi
Polri yang kini sudah remuk-redam di mata publik.
Ketum PSSI bukan hanya
menjadikan olah raga sebagai alat politik dan tunggangan kepentingan pribadi.
Lebih miris lagi, ia menunjukkan mental pemimpin yang tidak memiliki atitude,
tidak respek dan tidak menghargai prestasi orang lain. Sudah tidak mampu mengangkat prestasi sepak bola nasional,
melalui organisasi PSSI yang digawanginya. Moch. Iwan Iriawan kadung menjelekan
JIS yang menjadi kebanggaan warga
Jakarta dan seluruh rakyat Indonesia. Tanpa intropeksi, refleksi dan evaluasi
terhadap kinerjanya, Ketum PSSI yang programnya dibiayai APBN itu, malah sibuk
kampanye pilgub Jabar dan usil terhadap JIS yang notabene menjadi karya dan
prestasi Anies selaku gubernur Jakarta. Mestinya fokus mengembangkan dan
membesarkan prestasi sepak bola nasional secara kapabel, akuntabel dan
transparan. Buat apa saja dana PSSI selama dipimpinnya, kok bisa-bisanya minta
penggunaan stadion gratis
Dengan perilaku yang
yang tidak memiliki karakter, terlalu politiking dan sepi prestasi. Ketum PSSI
tanpa sadar menunjukan kelemahan dan keterbasannya mengomentari JIS baik dari
aspek arsitektur, struktur dan infra struktur maupun filisofis pembangunannya.
Bahkan saking gelap mata dan ambisius pada kepentingan politiknya serta ikut
menggerus figur Anies. Mantan Kapolda Metro Jaya yang dikenal luas sangat tidak
ramah dan cenderung represif di lapangan saat menghadapi aksi 212 dan gelombang
gerakan demonstrasi menuntut demokrasi
lainnya di Jakarta. Nyaris tidak pernah sukses menjalankan peran kepemimpiannya
baik dalam institusi kepolisian maupun cabang olah raga sepak bola. Kasus menyudutkan
JIS sekaligus menohok
Anies, Iwan Bule biasa
dipanngil hanya dilihat publik sebagai bagian dari upaya menjilat kekuasaan dan
itu saja yang menjadi kebisaannya.
Biar bagaimanapun dan
dilihat dari dimensi apapun. Anies yang juga menjadi pembina The Jack Mania,
jauh berbeda dan tidak layak dibandingkan dengan Ketum PSSI yang pragmatis itu. Anies dengan
segudang prestasi yang diikuti pelbagai penghargaan nasional dan internasional serta behavior
yang santun dan beradab. Tak perlu melayani dan menggubris orang semodel Ketum
PSSI yang konditenya begitu memprihatinkan. Janji Anies membangun JIS uttuk
Persija dan masyarakat pecinta sepak bola di Jakarta, biarlah menjadi contoh
dan keteladanan bagaimana memimpin dengan cara sunyi tapi penuh prestasi. Tidak
omdo alias banyak komentar, tapi tak
satupun ada yang berhasil dan membanggakan.
Warga Jakarta dan
seluruh rakyat Indonesia, dapat menyaksikan dari gelanggang olah raga dan
stadion sepakbola. Siapa sesungguhnya
yang pantas menjadi pemimpin?. Jangan mau ikut Pilgub dari demokrasi
yang kapitalistik dan transaksional tapi mau pakai stadion gratisan.
Catatan
dari pinggiran labirin kritis dan relung kesadaran perlawanan.
Bekasi
Kota Patriot.
17
September 2022-21 Saffar 1444 H.
Yusuf
Blegur-Mantan Presidium GMNI.

Komentar
Posting Komentar