JOKOWI SEMAKIN LEMAH
Oleh : Tony Rosyid (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)
Setiap
kekuasaan akan berakhir. Itu sunatullah. Apakah kekuasaan berdiri di atas
sistem demokrasi atau monarki, semua akan ada episodenya.
Masa jabatan Jokowi hanya
tinggal dua tahun. 2024 berakhir. Tahun depan, 2023 itu tahun politik. Semua
partai sibuk memikirkan nasib masa depannya. Dua hal yang dipikirkan. Pertama,
bagaimana suara partai naik. Minimal tetap. Kedua, siapa capres yang potensial
menang dan diusung. Hanya dua itu yang jadi pertimbangan.
Kedua hal ini punya
kaitan satu sama lain. Sebab, dukungan kepada capres punya prngaruh terhadap
suara partai. Akan sangat menguntungkan jika partai mengusung capres yang jadi
pilihan konstituenya. Apalagi, yang diusung punya peluang besar untuk menang.
Untuk ini, setiap partai punya survei internal.
Bagi partai politik,
Jokowi akan segera menjadi masa lalu. Masa romantis di Kabinet Indonesia
Bersatu (KIB) akan segera berakhir dan dilupakan. Pilpres 2024 akan menyedot
perhatian partai-partai politik untuk menyiapkan masa depannya.
Sejak 2019, PKS dan
Demokrat memilih berada di luar kekuasaan Jokowi. Otomatis pilihan politiknya
berbeda, bahkan berseberangan dengan Jokowi. Tahun 2022, tampaknya Nasdem punya
pilihan politik yang juga tidak sejalan dengan Jokowi. Nasdem dan Jokowi punya
calon berbeda untuk 2024. Gak usah tanya siapa calon masing-masing. Publik
paham.
Nasdem adalah partai yang
selalu berani membuat keputusan paling awal untuk deklarasikan calon. Dengan
langkah pro-aktif ini, Nasdem akan punya saham besar jika calon itu sukses dan
jadi presiden.
Pilpres 2014 dan 2019
Nasdem ikut mengusung Jokowi. 2024, Jokowi selesai. Dipastikan tidak dicalonkan
lagi. UUD membatasinya. Setiap presiden hanya boleh menjabat dua periode.
Wacana pemilu mundur dan gagasan tiga periode tak lagi punya ruang. Mayoritas
partai dan rakyat menolak. Pintu tertutup. The End.
Mungkinkah Jokowi jadi
cawapres? Wacana itu ada. Mahkamah Konstitusi (MK) bahkan ikut-ikutan bicara
soal peluang presiden yang sudah menjabat dua periode jadi cawapres. Meski oleh
Dahlan Iskan dianggap sebagai "petir di musim kemarau". Memang aneh
juga sih.
Pertanyaannya? Jokowi mau
jadi cawapresnya siapa? Prabowo? Tidak mungkin. Kalkulasi politiknya gak masuk.
Prabowo menang, Jokowi akan diparkir. Gak akan dikasih peran apa-apa. MoU
apapun, gak berlaku. Kekuasaan punya logikanya sendiri. Kekuasaan tidak tunduk
pada komitmen personal. Tidak pernah terjadi. MoU Batu Tulis, itu salah satu
faktanya. MoU Gerindra-PKS adalah fakta lainnya. Pihak yang wacanakan Jokowi
maju sebagai cawapres seperti mahasiswa FISIP yang baru belajar politik.
Jika pasangan
Prabowo-Jokowi kalah, itu akan lebih parah lagi. Jadi preseden buruk dalam
sejarah. Menang atau kalah pasangan Prabowo-Jokowi, kekuasaan bahkan kewibawaan
Jokowi akan rontok. Kekuasaan dan peran apa sih yang dimiliki oleh seorang
wakil presiden? Nyaris gak ada.
Terutama bila kalah di
pilpres, Jokowi boleh jadi tidak akan dikenang sebagai Presiden ke-7, tapi
lebih dikenal sebagai cawapres gagal. Jokowi cawapres, siapapun pasangannya,
tidak menguntungkan sama sekali. Ini pilihan politik yang paling tidak
rasional.
2024 bukan milik Jokowi.
Jokowi akan segera menjadi masa lalu. Seloyal apapun partai, pejabat, pengusaha
dan bahkan relawan, mereka akan berpikir masa depan. Rasionalitas mereka adalah
rasionalitas masa depan. Bukan rasionalitas masa lalu.
Jika hari ini Nasdem
ambil sikap tidak seperahu lagi dengan Jokowi untuk pilpres 2024, maka kedepan
"pasti" akan diikuti oleh partai-partai lain. Bukan pembangkangan,
tapi itu tuntutan masa depan. Itu rasionalitas politik. Jokowi tidak akan bisa
mencegah dan menyanderanya. Ini tidak hanya berlaku hanya bagi Jokowi. Ini
hukum politik yang berlaku pada semua rezim.
Apa yang akan menjadi
keputuskan partai politik akan selalu berkaitan dengan suara partai dan calon
yang punya efek elektoral yang potensial menang. Hanya itu. Tak ada yang lebih
rasional dari pertimbangan itu.
Komunikasi politik yang
dilakukan oleh partai-partai politik selama ini punya tujuan untuk naikkan
suara dan menang. Ini hanya soal waktu kapan partai itu membuat keputusan.
Terkait ini, Jokowi tidak akan lagi menjadi pertimbangan. Jokowi akan segera
menjadi sejarah masa lalu.
2023, akan banyak partai
yang tidak sejalan dengan pilihan Jokowi. Maka, sikap politik yang paling
rasional bagi Jokowi adalah netral. Dengan sikap netral, Jokowi akan
meninggalkan legacy yang baik. Jokowi akan dicatat sebagai negarwan. Masa
depannya relatif lebih aman. Siapapun yang akan terpilih jadi presiden, Jokowi
aman dan terhormat.
Sebaliknya, jika Jokowi
terlalu ikut campur dalam pilpres dan calon pilihannya kalah, ini punya risiko
politik yang teramat besar. Apalagi jika kontestasi pilpres 2024 se-ekstream
2019 kemarin, maka risiko politiknya akan bisa ekstream juga.
Rakyat berharap,
kompetisi di pilpres 2024 fair. Semua partai dan capres diberikan ruang yang
sama untuk berkompetisi secara elegan, sehingga akan lahir presiden terpilih
yang bisa diterima oleh semua pihak. Siapapun presiden yang akan terpilih, dia
presiden seluruh rakyat Indonesia. Bukan presiden untuk para pendukungnya saja.
Ini yang harus dijadikan sebagai prinsip leadership bangsa.
Jakarta,
15 September 2022

Komentar
Posting Komentar