ANIES PRESIDEN “DE FACTO”
Oleh: Yusuf Blegur (Ketua umum BroNies)
Saat Anies begitu
didukung dan dicintai sebagian besar rakyat Indonesia, namun tak disukai bahkan
dibenci oleh oligarki dari korporasi dan partai politik. Maka tunggu saja,
kehadiran pemimpin "de facto" yang mengemban aspirasi dan kehendak
rakyat dari demokrasi yang sehat?. Ataukah pemimpin "de jure" tanpa
mandat rakyat dari demokrasi yang sakit?.
Mungkin terlalu dini dan
mustahil menyebut seorang Anies Baswedan menjadi presiden "de facto"
di saat sekarang ini. Ada tiga faktor yang menegaskan premis itu menjadi
sekedar angan-angan dan dianggap uthopis. Pertama, karena pilpres baru akan
digelar pada tahun 2024. Kedua, karena pada 16 Oktober 2022 Anies baru akan
mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur Jakarta. Ketiga, rasanya seakan
kurang pas membicarakan hal tersebut di saat negara sedang kacau balau alias
berantakan.
Namun apakah semua yang
terjadi pada NKRI, harus selalu mengikuti keinginan dari pikiran-pikiran yang
normal dan rasional?. Termasuk prosesnya sesuai dengan ukuran formal dan
konstitusional?.
Pertanyaan tersebut tidak
serta-merta harus ditafsirkan sebagai
wacana apalagi sebagai upaya yang
mendukung tindakan irasional dan tidak konstitusional. Terlebih jabatan presiden
yang baku aspek hukumnya dan jika
dikaitkan dengan figur Anies yang dikenal sebagai intelektual yang
mengedepankan akal sehat dan taat pada aturan main. Anies juga diidentikan
sebagai pemimpin yang terbiasa tertib administrasi, mengikuti aspek prosedural
dan cenderung lentur pada birokrasi. Jejak rekamnya dalam dunia pendidikan
maupun karir pemerintahan mulai dari mendirikan program Indonesia Mengajar dan
menjadi Rektor Universitas Paramadina hingga
duduk sebagai menteri pendidikan dan menduduki jabatan gubernur Jakarta. Membuktikan Anies bukan tipikal pemimpin yang
bergaya preman dan ugal-ugalan.
Pun demikian memori
kolektif bangsa Indonesia bukan tidak pernah bahkan bisa dianggap sering
mengalami peristiwa atau kejadian di luar kebiasaan kalau tidak bisa disebut
'abnormal'. Sejarah kental memberi pelajaran pada rakyat Indonesia, tidak
sedikit kenyataan-kenyataan pada kehidupan bernegara dan berbangsa lahir dari
fenomena di luar logika dan penalaran. Secara empiris baik aspek politis maupun
ideologis, rakyat cukup kenyang menyantap menu ketidakpatutan dan
ketidaklayakan. Terlalu banyak realitas kehidupan yang harus diterima sebagai
guratan nasib atau sesuatu yang sudah menjadi takdir Tuhan. Entah yang datang
berupa kebaikan atau keburukan sekalipun, entah dalam kehidupan pribadi atau dalam lingkungan masyarakat. Betapapun
keduanya sangat terikat dan tak terpisahkan dari sebuah sistem, sebuah aturan
yang integral dan komprehensip dalam ketatanegaraan.
Bercermin pada pergerakan
kemerdekaan Indonesia di masa lalu, saat rakyat berjuang mengusir penjajahan
dan ingin menjadi negara merdeka dan berdaulat. Mengemuka betapa jauh dari
logis dan kewarasan bahwa bangsa Indonesia hanya berbekal dengan persenjataan
tradisional dan seadanya mampu melawan kolonialisme dan imperialisme dunia yang
ditunjang oleh pasukan tentara terlatih serta persenjataan yang lengkap dan
modern pada waktu itu. Begitupun luar biasa dan menakjubkan saat bangsa yang
begitu besar, luas dan kaya, dengan kebhinnekaan dan kemajemukannya mampu
berhimpun dan berikrar dalam satu konsensus nasional menjunjung Pancasila, UUD
1945 dan NKRI. Tak kalah penting dan menariknya bumi nusantara yang eksotik
alamnya, juga teguh memelihara kultur dan natur yang kuat budaya patron klen di
dalamnya. Salah satunya dalam memilih pemimpin yang diyakini sebagai satrio
piningit yang akan membawa kemakmuran dan keadilan bagi rakyatnya. Rakyat akan
manut pada arahan para orang tua, guru, tokoh adat, pemimpin desa atau kampung,
dan pimpinan-pimpinan komunitasnya. Demikian sedikit dari banyak hal yang
faktual yang sangat sulit bisa diterima dalam ranah kesadaran akal dan logika.
Peristiwa atau kejadian-kejadian yang
memuat nilai-nilai kemaslahatan dan hanya bisa leluasa diterima dengan
kesadaran spiritual dan kemampuan menyelami dimensi trasedental. Semua itu
seperti panggilan "given", layaknya anugerah Ilahi yang diberikan
untuk rakyat, negara dan bangsa Indonesia.
Begitupun sebaliknya
republik yang berbasis dari kekuasaan kerajaan-kerajaan nusantara ini, pasca
kemerdekaan dan bertransformasi menjadi NKRI. Tak usai dirundung kenestapaan
sebagai sebuah negara bangsa. Kesengsaraan dan penderitaan menjadi realitas
kontradiktif dari apa yang diyakini sebagai keinginan para "the founding
fathers" dan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan
sebagai jembatan emas seperti yang dikatakan Bung Karno, pada akhirnya hanya
menampilkan perpindahan kekuasaan dari
satu rezim ke rezim yang lain. Menjadi semacam parade pemerintahan yang hanya
mampu mewujudkan dan menopang hegemoni dan dominasi kekuatan ideologi
kapitalisme dan komunisme di negerinya sendiri.
Betapa digdayanya
pengaruh keniscayaan global yang bertentangan dengan falsafah dan dasar negara
Pancasila yang pernah menggerakan dan memengaruhi gerakan non blok dalam
percaturan internasional. Tregedi demi tragedi dalam konflik yang saling
menegasikan dan membunuh sesama anak bangsa, telah menjadi keseharian dinamika memperebutkan dan mempertahankan
kekuasaan di dalam negeri semakin menjadi tradisi. Dampak lokal akibat
kebijakan internasional, meskipun semua itu dilakukan atas nama demokrasi, HAM,
perdamaian dunia, gerakan anti korupsi, isu lingkungan, soal ketahanan pangan
dlsb. Etalase kampanye dari globalisme yang perlahan dan berangsur-angsur
membunuh peradaban manusia dan nilai-nilai keagamaan. Kenyataan itu yang
membentuk situasi dan kondisi pada fase kemudharatan atau kejahatan kemanusiaan
secara terstruktur, sistematik dan masif. Dalam hal ini, semua itu seperti
menjadi hukuman atas dosa politik berjamaah atau lebih ekstrim kutukan pada
bangsa ini baik yang dilakukan oleh para elit pemimpin, kelas menengah
maupun rakatnya sendiri. Boleh jadi
kondisi obyektit dari fenomena-fenomena distorsi itu sebagai konsekuensi dari
syahwat memburu materialisme dan mengabaikan religiusitas. Masyarakat modern
tanpa nurani dan akal sehat, masyarakat beragama tanpa berTuhan.
Kembali kepada figur
Anies dengan gelat pencapresannya dan kontestasi pada pilpres 2024. Seperti tak
bisa dihindarkan dari kesadaran etos dan mitos bangsa Indonesia. Sebagaimana
upaya pencarian pemimpin yang jujur dan adil, yang telah lama dirindukan
rakyat. Pemimpin yang dipilih karena penilaian dari keyakinan lahir dan batin.
Anies secara persfektif politik realitas,
mungkin agak sulit dan seperti menghadapi tembok besar untuk menjadi presiden
yang diinginkan rakyat. Terlebih saat demokrasi berisi dan dalam kemasan
kapitalistik dan transaksional. Kekuatan liberalisasi dan sekulerisasi yang
menumpuk pada oligarki korporasi dan partai politik, sulit menjamin proses
kedaulatan rakyat dalam memilih pemimpin secara ideal sesuai aspirasi dan
kehendak rakyat yang sesungguhnya. Oligarki yang telah menjadi representasi
kolonialisme dan imperialisme modern saat ini, semakin nyata dan berhadapan
langsung dengan Anies dan rakyat dibelakangya yang menginginkan perubahan
Indonesia menuju kebaikan.
Terlebih di saat rakyat
sudah lelah dan jenuh hanya bisa bermimpi tentang negara kesejahteraan, tentang
kehidupan adil makmur dan sentosa. Mimpi-mimpi indah yang sudah berubah menjadi
sikap apriori dan skeptis itu, kini mewujud kenyataan sebaliknya, parah dan mengerikan. Rakyat
telah paripurna hidup dalam habitat negara gagal. Bukan kemajuan negara dan
kebahagiaan rakyatnya, rezim terus terbang tinggi meroket ke langit membawa
haraga BBM, listrik, sembako, transportasi, pendidikan, kesehatan, pajak dan semua hajat hidup orang
banyak. Seiring itu harga diri para pejabat dan politisi semakin jatuh terjun
bebas, turun sedalam-dalamnya kerak bumi. Tanggung jawab dan kewajiban negara
dioerhalus bahasanya menjadi subsidi,yang sewaktu-waktu bisa dikurangi atau
dihapus serta dijadikan modus untuk maling uang rakyat. Rakyat telah menjadi
populasi penduduk tanpa pemerintahan dan tanpa negara. Hanya habitat kaum lemah
yang tak berdaya dan tertindas karena terus-menerus dilecehkan, dihina,
diperkosa, dirampok, dibantai dan
dibunuh oleh penguasa dzolim. Politik kekuasaan dari rezim yang berorientasi pada dehumanisasi.
Kalau sudah seperti itu
pilpres 2024 yang menjadi harapan dari transisi kepemimpinan nasional yang sejatinya membawa perubahan nasib rakyat
menjadi lebih baik. Disinyalir publik hanya menjadi mainan dan dikuasai
oligarki. Anies yang dielu-elukan rakyat untuk menjadi presiden, seolah-olah hanya pasrah pada partai politik
yang dianggap enggan mewujudkan "political will and goid will" pada
perbaikan masa depan Indonesia. Partai politik seperti terjebak pada
kepentingan pragmatis serta kesinambungan politik trah dan oligarki.
Rakyat pesimis partai
politik memiliki kesadaran makna hakekatnya demokrasi khususnya penyelenggaraan
pemilu dan pilpres. Bukan hanya
kecurangan tapi juga menjadi status quo bagi penguasa terlebih pada pilpres
2024 yang dibayangi presiden tiga periode atau perjangan jabatan presiden.
Akankah Anies mendapat tiket pencapresannya?. Ataukah Anies tetap menjadi
ancaman sekaligus musuh oligarki dalam pilpres 2024?.
Bisa jadi ini akan
menjadi episode perjalanan politik paling krusial bagi masa depan Indonesia.
Jika saja partai politik dan para cukong pemilik modal besar dibelakangnya,
lagi-lagi membajak esensi dan substansi demokrasi pada pilpres 2024. Bukan
tidak mungkin itu menjadi anti klimaks bagi kekuasan oligarki dan selanjutnya
menjadi klimaks bagi kedaulatan rakyat dalam penolakannya pada proses dan hasil
pilpres 2024. Atau bukan hal yang mustahil ketika arus besar dukungan suara rakyat terhadap Anies dalam prosesnya terindikasi dimanipulasi oleh oligarki baik
korporasi maupun partai politik. Berpotensi akan menimbulkan mosi tidak percaya
pada rezim termasuk produk pemilu dan pilpres 2024. Bahkan bisa menimbulkan
pemberontakan sosial dan politik pada rakyat bahkan sebelum pelaksanaan pilpres
2024. Dengan amburadulnya penyelenggaraan negara hingga sudah memasuki krisis
multidimensi, sikap antipati dan kemarahan rakyat pada pemerintah akan
bermetamorfase menjadi revolusi.
Betapapun itu, semua
elemen bangsa tampaknya akan berpikir panjang dan melakukan kalkulasi ulang.
Untuk menghindari ongkos sosial dan materi yang terlalu mahal dan berpotensi
pada kebangkrutan dan kehancuran nasional. Negara dengan semua irisan
kekuasaannya baik dalam tatanan struktural maupun kultural akan merumuskan
jalan keluar dari semua problematika bangsa. Termasuk mencari jalan tengah atau
"win-win solution" demi kebaikan rakyat, negara dan bangsa Indonesia.
Semua petinggi dan pemangku kepentingan publik suka atau tidak suka, senang
atau tidak senang dan terpaksa atau tidak terpaksa, ughens dan menjadi prioritas menyelamatkan
Indonesia dari kehancuran yang lebih buruk lagi. Termasuk bisa mengatasi krisis
pemimpin, mengangregasi dan mengintegrasi kembali pembelahan sosial pada rakyat
yang begitu memprihatinkan serta upaya serius dan sungguh-sungguh memulihkan
persatuan dan kesatuan bangsa, stabilitas nasional serta menjamin transisi
kepemimpinan yang terhormat, bermartabat dan memenuhi prinsip-prinsip sejatinya
kedaulatan rakyat.
Memilih dan menjadikan
pemimpin nasional dalam hal ini termasuk presiden yang berkarakter, jujur,
adil, amanah, sarat prestasi dan berintegitas. Selayaknya sudah menjadi syarat
dan keharusan bagi presiden yang memimpin Indonesia ke depannya. Dengan modal
sosial dan politik serta jejaring yang luas di dalam dan luar negeri serta
didukung dan dicintai rakyat. Anies sepertinya memenuhi kriteria dan kualifikasi tersebut, untuk menjadi presiden
Indonesia. Anies yang santun, sabar, cerdas dan identik dengan keoribadian yang
terbuka dan merangkul semua anak bangsa, menjadi yang terbaik dari yang baik
atau kalau mau lebih tawadhu lagi, terbaik dari yang terburuk.
Tentunya melalui proses
demokrasi yang konstitusional dengan
produk pilpres baik yang menghasilkan politik ideal atau politik realitas.
Pemimpin yang lahir dari rahim rakyat atau rahim oligarki, pemimpin yang
"de facto" didukung dan dicintai rakyat melalui proses demokrasi yang
sejati, atau pemimpin "de jure" tanpa mandat rakyat melalui manipulasi
demokrasi. Faktanya, Anies sesungguhnya
telah menjadi presiden"de facto" sebelum ataupun sesudah pilpres
2024.
Wallahu
a'lam bishawab.
Catatan
pinggiran labirin kritis dan relung kesadaran perlawanan.
Bekasi
Kota Patriot.
21
September 2022/24 Shafar 1444 H.
Yusuf
Blegur.

Komentar
Posting Komentar