Rumah Sakit Jadi Rumah Sehat? Kok bisa?
Oleh : dr. Douwes Decker (Pemerhati sosial)
Baru-baru ini di media sosial ada perbincangan atau perdebatan tentang pergantian istilah (nama) Rumah Sakit menjadi Rumah Sehat yaitu di wilayah DKI Jakarta yang dipimpin oleh Anies Baswedan.
Yang paling heboh tentunya para buzzerRp dan Haters gubernur Anies. Macam-macamlah komentarnya dianggap ribet, tidak ada manfaatnya atau cuma pencitraan.
Tidak ada satupun yang menilai dari sisi positifnya. Seperti biasa apapun yang keluar dari mulut pak Anies atau kebijakannya pasti salah..
Sekarang mari kita kaji secara obyektif apakah makna dibalik perubahan istilah dari Rumah Sakit menjadi Rumah Sehat ini ?
Ada pepatah lama yang mengatakan, What's the name? Apa arti sebuah nama. Apakah itu penting? Menurut penulis, itu sangat penting. Seperti ketika orang tua kita memberikan nama pada anaknya, didalamnya mengandung, doa, harapan dan persepsi yang akan dilekatkan pada si Anak. Bukankah realitas itu juga dibangun oleh sebuah persepsi?
Baik sampai disini kita akan memotret gambaran tentang urgensi perubahan istilah tersebut. Sebagian besar diantara kita mungkin tidak terlalu banyak kendala (psikologis), ketika harus datang ke rumah sakit jika alami sakit yang cukup mengganggu. Namun sebagian warga masyarakat kita banyak yang enggan berobat ke RS, walaupun sebenarnya perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Akibatnya terlambat mendapatkan pertolongan.
Kalau diamati kesan pertama yang muncul di benak mereka adalah , bahwa RS itu tempat horor, banyak orang-orang sakit menjemput kematiannya. Aromanya khas menyeruakkan bau amis dan darah.Susternya galak2, dokternya dingin.
Nah dengan perubahan istilah tersebut, di maksudkan untuk merubah persepsi (negatif) dan paradigma pelayanan kesehatan sambil lambat laun memberikan kesempatan pihak manajemen untuk melakukan pembenahan baik dari segi infrastruktur maupun model pelayanan yg akan disesuaikan dengan persepsi atau citra yang akan dibangun. Persepsi yg ingin dibangun adalah Rumah Sakit sebagai tempat yang menyenangkan dan menenangkan, memberi rasa aman dan harapan besar untuk sembuh
Perubahan paradigma kesehatan seperti apa, yaitu dari paradigma sakit yang hanya bersifat kuratif dan rehabilitatif menjadi paradigma sehat yang bersifat promotif juga. Keberadaan RS dibeberapa negara, sudah bertransformasi bukan hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan (kuratif ) tapi memiliki fungsi yang lebih progresif yaitu promotif dan rekreatif, jadi tempat healing yang menyenangkan.
Bahkan akhirnya bisa berkolaborasi dengan sektor tourism, seperti di Singapura dan Malaysia
Sampai disini kita bisa mengutip pernyataan Imanuel kant, yg terkenal itu. Sebagian besar gangguan pada hidup kita bukan karena faktor keadaaan saja, tp oleh cara pandang (persepsi) kita dalam melihat keadaan.
Jadi sekali lagi nama itu penting, persepsi itu adalah persoalan substansial. Karena bisa merubah makna dan keadaan.
Itulah kecerdasan seorang Anies, beliau bisa mendorong sebuah transformasi sosial (hanya) melalui perubahan nama. Model spt ini bisa kita lihat juga dari perubahan nama-nam jalan di beberapa wilayah DKI. Diganti oleh nama-nama yang syarat muatan lokal. Ditengah arus globalisasi yang kencang ini. Lokalitas itu justru menjadi penting. Dengan perubahan nama itu diharapkan akan memantik sebuah kesadaran baru, emansipasi yang lebih aktif dan perasaan handarbeni dan tanggung jawab masyarakat lokal. Ujungnya adalah sebuah gerakan transformasi sosial yang efektif.
Berbeda dengan model di solo, pembangunan infrastruktur memang sangat massif, tetapi secara sosial, politik, dan ekonomi, wong solo sebagian besar berada pada posisi marjinal. Dan tidak ada kesadaran kritis yang menyertainya. Konsekuensinya, tanggung jawab warga dalam menguri-uri berbagai fasilitas publik kurang dan narimo begitu saja.
Ternyata perubahan infrastruktur tanpa diikuti transformasi sosial dan kesadaran warganya menjadi hal yang muspro (sia-sia).
Apa yang terjadi di Jakarta, Dalam membangun Jakarta pak Anies bukan sekedar membangun fisik kotanya tapi membangun kesadaran, jiwa dan martabat warganya.

Komentar
Posting Komentar