KEZALIMAN DAN PENGKHIANTAN, AKAR MASALAH PEMBELAHAN ANAK BANGSA, BUKAN POLITIK IDENTITAS


Oleh : Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik)

Sejumlah tokoh politik dan buzzer sibuk ngoceh soal politik identitas jelang Pemilu 2024. Mereka seolah peduli dengan persatuan, khawatir dengan perpecahan anak bangsa.

Bahkan, ada yang bernarasi lebih baik tidak ada Pemilu kalau hanya akan menjadikan bangsa ini terbelah. Seolah, selama ini mereka peduli dengan kondisi negeri, peduli terhadap rakyat.

Faktanya mereka selama ini bungkam atas berbagai penderitaan dan kesengsaraan rakyat. Mereka hanya bicara soal rakyat ketika mendekati musim Pemilu.

Padahal, sejatinya mereka cuma takut kalah Pemilu, kalah Pilpres karena perlawanan umat Islam berbasis keyakinan identitas agama Islam. Lalu mereka sibuk kampanya 'tolak politik identitas' yang maksudnya adalah tolak politik yang berbasis identitas Islam, yang membuat mereka tidak bisa main tipu-tipu rakyat dan akhirnya kalah dalam Pemilu.


Mereka takut narasi kampanye : TOLAK PEMIMPIN KAFIR, TOLAK PARTAI PENISTA AGAMA, TOLAK SEKULERISME, TOLAK KAPITALISME, TOLAK KOMUNISME, dan narasi TEGAKKAN KEADILAN, LAWAN KEZALIMAN, TERAPKAN SYARIAT ISLAM, SATUKAN UMAT ISLAM.


Ini sebenarnya yang mereka takuti, dan mereka menginginkan agar umat Islam melepaskan identitas dan keyakinan Islam dalam berpolitik. Mereka ingin, umat Islam meneriakan narasi jampi-jampi politik yang mereka buat.

Misalnya, mereka meminta Umat Islam percaya, pada narasi kampanye : KALAU SAYA MENANG LANGIT AKAN SAYA ATAPI, KALAU SAYA MENANG LAUT AKAN SAYA ASPAL, KALAU SAYA MENANG SELURUH MAKHLUK AKAN SAYA JAMIN REZEKINYA, dan janji-janji gombal lainnya.

Mereka berbusa bicara khawatir akan perpecahan dan pembelahan anak bangsa, tetapi tidak menghilangkan akar (penyebab) masalahnya, yakni : KEZALIMAN DAN PENGKHIANATAN.

Selama praktik kezaliman dan pengkhianatan dilanggengkan, maka selamanya akan ada perlawanan dari umat Islam.

Sebagai contoh, bagaimana mungkin keluarga KM 50 akan diam dan tidak melawan, atas kezaliman yang menimpa anggota keluarga mereka yang dibantai secara sadis dan pelakunya dimaafkan dan dilepaskan oleh rezim. Lalu, apakah anggota keluarga itu akan mengatakan dengan suka cita 'TERIMA KASIH PAK JOKOWI ?', tentu tidak, mereka bahkan umat Islam yang membela mereka akan melakukan perlawanan hingga di pengadilan akherat.

Bagaimana mungkin HTI dan FPI yang organisasinya dizalimi, akan mengatakan : TERIMA KASIH PAK JOKOWI ? TERIMA KASIH PDIP ? TERIMA KASIH NASDEM ? TERIMA KASIH GOLKAR ? TERIMA KASIH PKB ? TERIMA KASIH PPP ? tidak, mereka akan melawan karena perintah agama bukan diam, tetapi melawan kezaliman.

HRS dipenjara, Munarman di penjara, Gus Nur di penjara, petinggi FPI dipenjara, terus kami diminta bicara TERIMA KASIH PAK JOKOWI ? TERIMA KASIH PDIP ? TERIMA KASIH NASDEM ? TERIMA KASIH GOLKAR ? TERIMA KASIH PKB ? TERIMA KASIH PPP ?

Bagaimana mungkin, rakyat yang sudah susah, listrik dinaikan, BBM dipersulit, harga-harga selangit, hidup kian sulit. Lalu, rezim ini berharap rakyat mengatakan : TERIMA KASIH PAK JOKOWI ? TERIMA KASIH PDIP ? TERIMA KASIH NASDEM ? TERIMA KASIH GOLKAR ? TERIMA KASIH PKB ? TERIMA KASIH PPP ?

Itu satu soal, tentang kezaliman. Yang kedua adalah soal pengkhianatan.

Bagaimana mungkin, pendukung Prabowo yang dulu telah berjuang dan berkorban untuk Prabowo, kemudian Prabowo secara sepihak meninggalkan pendukungnya dan bermesraan dengan rezim, lalu berharap para pendukungnya mengatakan : TERIMA KASIH PAK PRABOWO ?

Kalau rakyat terbelah, meninggalkan Prabowo dan Partai Gerindra, bahkan mengajak untuk tidak lagi mendukung Prabowo, itu adalah sifat yang wajar. Justru aneh, kalau rakyat masih mendukung Prabowo.

Nah, persoalannya itu, soal kezaliman dan pengkhianatan. Kalau tak ingin ada pembelahan dan perlawanan, hilangkan kezaliman dan pengkhianatan.

Faktanya, mereka justru semakin zalim dan berkhianat. Mereka yang berkuasa telah berkhianat dan menjual kedaulatan bangsa indonesia kepada asing dan aseng.

Yang begini ini minta kami umat Islam diam ? berhenti melawan ? tidak bisa. Kami tetap melawan karena itu perintah agama Islam, tidak peduli mau dibilang politik identitas. Kami menggunakan politik identitas Islam untuk melawan politik yang zalim dan khianat. [].

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anies dan Demokrasi Bau Amis

Mengetuk Pintu Langit

Sunny dan Surya Tjandra, Dua Kader PSI Yang Mendukung Anies Baswedan