NU LAGI LAGI JADI PENENTU 2024 DI TENGAH POLITIK IDENTITAS

 


Oleh: Al Ghozali Hide Wulakada (Akademisi dan Praktisi Hukum)

Anis jadi calon Presiden bakal mendapat jalan tol setelah Nasdem jatuhkan pilihan pada Anis. Nasdem adalah partai pertengahan,perolehan suaranya pada Pemilu 2019 nomor 4 dari 9 Parpol. Diatasnya ada Grendra,Golkar dan PDIP. Dibawahnya ada PKB,Demokrat,PKS,PAN,PPP.

Analisa prospektif Anis 2024 selalu sesuai tiga variabel yaitu capaian suara Parpol 2019,kecenderungan suara pada suara Pilgub DKI 2019,dan portofolio Anis selama menjabat sebagai Gubernur DKI.

Bagian ini saya hanya melihat dari kemungkinan pergerakan relawan Anis menerobos suara ke atas dan suara ke bawah dari pada para Parpol di 2019.

1) Penerbosan ke atas adalah suara Gerindra akan berpindah ke Anis pada Pilpres mendatang. Sebenarnya jika kita melihat suara dukungan pada  Prabowo pada 2019 dominan dari suara muslimin yang secara emosional dan politis tidak tertarik pada JKW dan PDIP. Para pemilih itu memilih Prabowo bukan lantaran Gerindra tetapi karena tidak ada pilihan lain untuk melawan JKW dan PDIP. Jadi,bila Gerindra tidak menjatuhkan koalisinya bersama dengan Partai Pendukung Anis maka,saya perkirakan banyak suara Gerindra yang bermigrasi ke Nasdem dan PKS untuk demi sukseskan Anis. Ada kekecewaan di grassroot  ketika Prabowo masuk ke kabinet JKW. Kekecewaan itu sekaligus menjelaskan bahwa kekuatan Prabowo itu ketika setia sebagai oposisi. Saya perkirakan Gerindra kehilangan 40%  jika tidak bisa memberikan dukungan pada Anis Baswedan. Posisi pesona Prabowo sebagai Politisi sudah memudar dengan kekalahannya di beberapa kali Pemilu.

2) Penorobosan suara ke bawah bisa dilihat 100% dari suara PKS. Potensi Demokrat 100% terkait koalisi terlepas dari AHY sebagai Wapres atau tidak. Potensi PKB masih ambigu,PKB akan melihat kesempatan Cak Imin dalam koalisi,tetapi arus NU  akan menuju Anis jika Anis mau menarik posisi NU sebagai cawapres seperti Mahfud MD atau Khofifa. Sementara Potensi PPP di grasssroot mendukung Anis,PPP akan senasip dengan Gerindra bila tidak mendukung Anis. Posisi PAN lebih para nanti karena terbagi suaranya dengan Partai basutan Amin Rais dan Dien Syamsudin.

Tetapi kehati hatian perlu dikedepankan terhadap gabungan suara PDIP, Golkar dan Gerindra mencapai 49.9 %.   Terhadap data suara tersebut maka Relawan Anis harus bekerja untuk dua tujuan praksis yaitu (a) membuat cara kampanye yang kreatif untuk merangkul pemilih milenial,kampanye menepis politik identitas yang selalu dilekatkan pada Anis,fokus share prestasi Anis. Targat mengalihkan 15 % bagian atas Nasdem maka, potensi rival berada 41 % saja,  Sedangkan kerja keras suara bawah Nasdem adalah mempertahankan suara PKS,PKB,PAN dan PPP. PKS,PAN dan PPP relatif lebih gampang untuk dipertahankan. Tapi tidak dengan PKB yang sangat Idiologis Nahdiyyin,agar konstituen PKB bisa dipegang maka Anis harus memikirkan Cawapres dari NU.

Paling tidak simulasi Cawapres untuk Anis sudah mulai dipaparkan sebagai tes gelombang kepentingan Partai Pendukung dan arus dukungan Ummat dan mengukur kecenderungan rival.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anies dan Demokrasi Bau Amis

Mengetuk Pintu Langit

Sunny dan Surya Tjandra, Dua Kader PSI Yang Mendukung Anies Baswedan