Industri Propaganda Hitam, Dibalik Deklarasi Capres
Broniesupdate, Jakarta ---Kondisi politik di tanah air makin riuh. Mulai dari
konsolidasi partai-partai politik dalam penentuan arah politiknya untuk pilpres
2024 nanti, hingga kemunculan berbagai deklarasi calon presiden dari berbagai
kelompok.
Terkait kemunculan
berbagai deklarasi capres justru melahirkan opini dan
framing-framing jahatyang dilakukan untuk menjatuhkan pihak tertentu. Contohnya
deklarasi yang ditujukan untuk mendukung Anies Baswedan sebagai
capres. Ada dua deklarasi terakhir yang menjadi sorotan, yakni dari FPI reborn
dan Majelis Sang Presiden yang dianggap agenda setingan.
Lahir dari antusiasme yang direkayasa yang kemudian
berbuah sebagai propaganda hitam. salah satunya misalkan yang terjadi kepada
Anies Baswedan. Gerakan-gerakan deklarasi dari kelompok yang sudah dilarang
keberadaannya oleh pemerintah tiba-tiba satu demi satu bermunculan menjelang Pilpres
2024 dan menyatakan pernyataan dukungan kepada Anies,
Memang terbilang konyol dan tidak masuk akal tapi
ini sudah menjadi strategi dari industri propaganda ini. Gerakan-gerakan
deklarasi ini memang seperti ada yang menggerakan (Red).
Dugaan Kampanye Hitam Untuk
Anies
Eks Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI) Ismail Yusanto menduga acara deklarasi yang menyatakan dukungan kepada Anies Baswedan sebagai
Presiden RI oleh Majelis Sang Presiden sebagai agenda setingan.
Deklarasi itu juga disebut terindikasi sebagai
upaya black campain terhadap pihak tertentu. Namun, dia tidak menyebut sosok di
balik acara deklarasi tersebut. "Tampaknya seperti itu (dugaan agenda
setting dan black campaign)," kata Ismail.
Ismail mengatakan, dirinya sama sekali tidak
mengenal sosok yang mengklaim diri sebagai eks HTI di acara deklarasi tersebut.
Tidak hanya eks HTI, dalam acara
yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan kemarin, ada peserta yang
mengaku sebagai eks FPI dan eks narapidana terorisme.
"Saya tidak tahu sama sekali acara itu. Tidak ada pembicaraan sama sekali soal acara seperti itu. Kami juga tidak kenal yang ngaku-ngaku sebagai eks HTI," tegas Ismail.
Sementara itu, Wasekjen PA 212, Novel Bamukmin menduga, ada semacam pembusukan opini terkait adanya orang yang mengaku eks FPI. Seolah-olah, FPI hendak dinarasikan mempunyai ambisi politik tertentu.
Novel menegaskan, FPI yang kini mempunyai kepanjangan sebagai Front Persaudaraan Islam (FPI) merupakan gerakan dakwah. Fokusnya di ranah pendidikan dan aksi kemanusiaan."Padahal kami hanya gerakan dakwah , pendidikan dan fokus dengan aksi kemanusian," sebut dia.
Terkait dukungan menjelang
Pilpres 2024, Novel menyatakan jika hingga kini PA 212 belum menentukan sikap.
Dukungan resmi terhadap salah satu calon baru ada setelah ada ketetapan dari
Ijtima Ulama.
"Untuk dukung
mendukung saya dari perwakilan PA 212 sampai saat ini kami wajib netral.
Dukungan nanti setelah ada ketetapan dari Ijtima Ulama ketika capres dan
cawapres telah ditentukan oleh KPU." Katanya. Red

Komentar
Posting Komentar