Fenomanies dan Virusanies
Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
Anies memang sudah menjadi "virus" bagi hampir semua warga Indonesia. Apa yang terjadi dan menjangkiti warga ini seperti virusanies dan sudah menjadi fenomanies.
Disebut virusanies karena kemunculan Anies ibarat virus yang menjangkiti seluruh warga. Anies telah menjadi perbincangan bagi semua warga yang menginginkan adanya perubahan. Tidak hanya kalangan elit, tapi juga sudah merembet dikalangan masyarakat, diwarung - warung kopi dan dikampung - kampung di pelosok desa.
Kenyataan yang seperti ini yang menyebabkan kemunculan Anies menjadi sebuah fenomena yang oleh penulis disebut sebagai fenomanies.
Anies sudah menjadi fenomena bagi bangkitnya keinginan perubahan. Tanda - tanda Anies menjadi femomena bangkitnya keinginan adanya perubahan ditandai dengan merebaknya jumlah relawan yang ditandai deklarasi - deklarasi relawan diberbagai tempat dipenjuru nusantara.
Di Jawa Timur misalkan, dari 38 Kabupaten / Kota yang ada, sudah hampir semua sudah ada relawan - relawan Anies, bahkan di Banyuwangi, relawan Anies yang dinamai Anies Wangi sudah sampai mengibarkan bendera relawan Anies diatas puncak kawah gunung Ijen. Bahkan konon katanya, virusanies sudah menyebar di 25 kecamatan.
Hal yang sama juga terjadi di Jawa Tengah, Virusanies sudah hampir menyebar keseluruh wilayah dan telah menjadi fenomanies.
Apa yang terjadi di Jawa Timur dan Jawa Tengah tentu juga terjadi dibeberapa daerah di wilayah negara Indonesia. Fenomanies telah menjadi simbol gerakan perubahan.
Virusanies yang telah berubah menjadi fenomanies inilah yang mau tidak mau akan membuat siapapun yang anti perubahan, siapapun yang bekerja bersama dan untuk oligarki akan merasa terganggu dan tidak nyaman.
Anies telah dianggap bukan bagian oligarki, Anies juga dianggap sebagai musuh oligarki yang harus dihadang dan dihabisi, Anies tidak boleh jadi presiden. Sehingga berbagai cara dan upaya akan dilakukan untuk menghadang merebaknya virusanies di masyarakat.
Bangkitnya rakyat melawan, bangkitnya gerakan kesadaran untuk perubahan Indonesia yang lebih baik dan mensejahterakan telah menjadi fenomena yang tak terbantahkan.
Tentu fenomanies seperti ini akan memaksa mereka yang bekerja untuk oligarki melakukan upaya-upaya radikal seperti yang terjadi di Subang. Spanduk dan baliho Anies yang tersebar dirusak dan dicuri oleh maling maling yang bekerja untuk oligarki.
Para pecundang dan maling - maling ini tentu tidak bekerja sendirian, mereka tentu bagian dari sebuah sistem yang tidak ingin Indonesia menjadi lebih baik, bisa dibayangkan calon yang diusung oleh orang - orang yang seperti ini tentu bukanlah calon yang baik, pastilah orang yang diusung mentalnya pasti sama jahat dan kotor, menghalalkan segala cara kalau memimpin dan tentu tidak berpihak pada kepentingan rakyat, mereka pasti bekerja untuk kepentingan dirinya dan oligarki, rakyat hanya akan dibohongi terus menerus.
Bagi relawan Anies, virusanies harus terus diupayakan menjadi fenomanies. Bekerja tanpa henti melawan cara - cara kotor mereka. Meminjam istilah sahabat sahabat saya dari Betawi "Lu jual, Gue borong" adalah cara yang tepat untuk menghadapi mereka.
Maka menjadi sangat penting apa yang disampaikan oleh La Ode Basir, Ketua DPP Anies, Aliansi Untuk Indonesia Sejahtera akan membentuk satgas untuk menjaga spanduk dan baliho Anies agar tetap menjadi virusanies dan
fenomanies. Bahkan kalau perlu dalam rangka menjaga tersebarnya virusanies tetap menjadi fenomanies, bekerja sama dengan kelompok - kelompok lokal beladiri atau yang lain lainnya.
Virusanies dan fenomanies tentu akan semakin ganas sebarannya, seiring dengan naiknya popularitas dan elektabilitas Anies. Apalagi ada gejala virusanies ini sudah menjangkiti beberapa parpol yang menginginkan adanya perubahan.
Tugas kita sebagai relawan tetap bekerja fokus untuk mengantarkan Anies menjadi presiden RI 2024.
Gangguan - gangguan dari kelompok oligarki dan suruhannya tentu tak perlu ditanggapi secara serius, biarlah itu urusan satgas - satgas dan bidang advokasi. Tugas kita sebagai relawan tetap mengawal virusanies agar terus menyebar.
Pepatah mati satu tumbuh seribu barangkali menjadi sebuah kata bijak penting yang perlu diperhatikan. Satu baliho dan spanduk Anies dicopot, esok akan kita pasang lagi lebih dari satu. Untuk perbuatan yang merusak dan mencopot spanduk dan baliho Anies tentu akan diusut dan dicari dan diselesaikan secara hukum.
Relawan Anies tentu adalah relawan yang baik, karena Anies yang didukung adalah orang baik. Fenomanies adalah sebuah sunnatullah, bahwa orang baik akan berkumpul dengan orang baik, begitu juga sebaliknya, mereka yang culas, bohong, tidak amanah, maling tentu akan berkumpul dengan orang yang bohong, khianat, maling dan sejenisnya.
Bagi relawan Anies yakinlah bahwa kalau kebenaran dan kebaikan sudah datang, maka kebaikan dan kebenaran itu tak akan bisa dibendung, dan yang pasti kebaikan dan kebenaran pasti akan menang.
Fenomanies adalah gejala bangkitnya perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, maka harus dikawal dan diperjuangkan dengan cara cara yang baik dan tegas, tidak ada Kompromi untuk perbuatan - perbuatan yang mengotori demokrasi.
Tetap sabar dan istiqomah serta dalam satu barisan yang kuat dan kokoh adalah kata kunci untuk mengantarkan Anies menjadi presiden RI 2024. Semoga!
Surabaya, 6 Mei 2022

Komentar
Posting Komentar