Anies Melahirkan Sintesa Baru
Kalau kita melihat tipikal kepemimpinan sejak hasil pemilihan langsung dimulai dari Presiden SBY hingga Joko Widodo, terdapat karakter yang sangat berbeda. Presiden SBY cenderung realistis, demokrasi lebih sejuk tidak ada gaduh. Karena saat itu publik belum tahu itu ada buzzer dan buzzer itu bisa dibuat untuk meng-kanalisasi issu-issu politik - ekonomi yang merugikan kehidupan rakyat. Era presiden SBY nyaris tidak ada yang namanya Penista agama.Kelompok oposisi diparlemen hidup, bahkan the ruling party seperti PKS sama kerasnya dengan PDIP yang jadi oposisi. Tidak ada rasa was-was dalam mengkritik SBY. Bahkan era SBY kekuatan KPK betul betul nyata dirasakan publik. Besan sendiri dimasukin penjara oleh KPK. Ketua Umum PD yang nota bene SBY sebagai presiden nya tidak bisa berkutik. Lalu muncul "asumsi" oposisi saat itu diparlement bahwa SBY sedang melakukan politik pencitraan. Masa politik pencitraan, besan dan ketua umum partai sendiri harus ditangkap KPK. Kelompok oposisi saat itu lagi coba membuat framing tentang kepemimpinan SBY. Tapi faktanya saat itu SBY tidak kasih ampun yang namanya korupsi. Hasil pembangunan saat itu tidak muluk - muluk alias bukan mau target tayang . Kepemimpinan SBY meninggalkan legacy Demokrasi yang patut untuk dicontoh. Sekarang diera kepemimpinan Jokowi berbanding terbalik jauh dari apa yang terjadi diera SBY. Sepertinya buzzer - buzzer lebih berkuasa dari presiden Jokowi. Mereka boleh melakukan apa saja asal tidak mengkritik kekuasaan rezim Jokowi.
Yang paling menyakitkan bagi publik , para buzzer membuat fitnah keji kepada seseorang, tokoh agama ataupun tokoh yg dianggap tidak sejalan dengan rezim. Ini sungguh dahsyat. Sampai ada publik yang berucap, itu buzzer punya agama nggak sih? Lalu apa yang dihasilkan kepemimpinan Jokowi? Semua serba mengambang, Jauh dari janji - janji kampanye. Janji kampanye diperiode pertama saja banyak yang tidak terealisasi, muncul janji kampanye periode kedua. Tiba - tiba publik diguncang kan dengan perpindahan ibukota baru. Jelas di kampanye pilpres periode kedua, IKN tidak pernah nongol ke publik. Kalau saja muncul issu IKN dikampanye pilpres kedua, yakin rakyat Indonesia banyak tidak pilih Jokowi - Ma'ruf. Rakyat tidak butuh pindah IKN. IKN dianggap hanya issu elit oligarky yang ingin mengangkangi rezim politik Indonesia kedepan siapapun yang berkuasa. Kebanyakan rakyat sekarang ini memandang bertahan hidup saja masih bisa makan apa adanya sudah berterima kasih kepada Tuhan nya. Ironis memang berterima kasih bukan kepada pemimpinnya yang berkuasa sekarang. Penegakan hukum jauh jungkir balik dengan harapan rakyat. KPK jantung pertahanan rakyat dibidang penegakan korupsi sudah berubah dengan adanya UU KPK yang direvisi. Makanya tidak heran untuk menangkap seorang Harun Masiku tidak dapat dilaksanakan oleh KPK. Padahal peralatan begitu canggih apa yang dimiliki KPK. Densus 88 mabes polri saja masih cium bau - bau terduga teroris sudah langsung bisa menyergap para pelaku yang terduga teroris. Inilah semua deretan pola kepemimpinan era SBY dan Jokowi yang sangat nyata didepan mata. Semua track recordnya ada terbuka. Jangan sampai era Jokowi rakyat menilai cuma meninggalkan legacy buzzer-buzzer anti Demokrasi. Rakyat menilai presiden buzzer Indonesia. Tentu presiden Jokowi tidak menginginkan itu. Tapi kalau tidak ada perbaikan, rakyat akan kasih stempel itu. Sekarang rakyat berharap lahir seorang pemimpin seperti Anies Baswedan. Semua janji kampanye terpenuhi dan diselesaikan dengan adem sejuk dan demokratis. Semua transparan apa yang dilakukan sebagai gubernur DKI. Tidak ada, satupun yang ditutup-tutupi. Tuduhan buzzer yang coba digoreng yang intoleran tidak terbukti. Dengan sendirinya telah batal tuduhan itu. Selama kepemimpinan jadi Gubernur DKI sudah tidak terhitung mendapat penghargaan dari berbagai lembaga yang membuat kota Jakarta menjadi kota yang berwibawa. Jika melihat seseorang pemimpin lihatlah kota yang dipimpinnya.
Setidaknya Anies sudah membuktikan pembangunan Jakarta seperti JIS , Formula E , penataan kota dan trotoar yang indah bagi pengguna jalan , sangat mempertimbangkan lingkungan sekitar dan tentu akan berdampak pada sumber ekonomi baru diJakarta.
Kesejukan , keindahan , ekonomi berjalan dengan baik dan sangat demokratis.
Harapan rakyat Indonesia Anies Baswedan presiden yang menjadi Sintesa Baru dari rezim-rezim terdahulu.
Bahagia rakyatnya , memajukan bangsanya.

Komentar
Posting Komentar