Anies Ibarat Batu Karang di Lautan
Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
Sesungguhnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dipermukaan bumi baik itu di darat maupun di lautan adalah tanda tanda kehidupan bagi mereka yang mau berpikir. Begitulah siklus kehidupan akan selalu terjadi, semua tidak terlepas dari kejadian kosmis yang menjadi sunnatullah.
Setiap kebaikan pasti akan ditentang oleh mereka yang selama ini diuntungkan oleh ketidakbaikan, setiap kebaikan yang ada akan selalu dianggap sebagai sebuah ancaman bagi mereka yang selama ini sedang berproses dalam ketidak baikan.
Fenomena inilah yang terjadi kepada Anies Baswedan. Anies begitulah orang menyapanya, sejak kemunculannya menjadi Gubernur DKI Jakarta, sudah mulai dianggap sebagai ancaman, karena kebijakan - kebijakannya yang melawan ketidak baikan. Fatalnya ketidak baikan yang dilawan Anies adalah ketidak baikan yang sedang dipraktikkan oleh penguasa istana bersama oligarki. Sehingga lengkaplah sudah penguasa istana dan oligarki memusuhi Anies.
Segala upaya dilakukan oleh penguasa jahat istana dan oligarki untuk menghancurkan Anies, uang negara dihamburkan untuk membiayai buzzerRp pengkhianat reformasi, konon nilainya hampir 100 M. Cara cara kotor, licik dan Machiavelis, menghalalkan segala cara dilakukan, tak lagi malu, nilai etik dan moral berdemokrasi, tak lagi penting, yang ada adalah Anies tak boleh jadi presiden.
Upaya-upaya kotor itu, Hari-hari ini semakin gencar dilakukan seiring dengan menguatnya popularitas dan elektabilitas Anies, hal yang sama tidak terjadi pada Ganjar Pranowo dan Prabowo. Anies telah dianggap sebagai musuh bersama penguasa istana jahat dan oligarki, Anies dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan praktik busuk yang sedang mereka lakukan.
Ganjar dan Prabowo bukanlah ancaman bagi mereka, meski mereka bersama Anies selalu menduduki puncak popularitas dan elektabilitas dalam berbagai survey. Hal ini bisa terjadi karena Ganjar dan Prabowo sudah dianggap sebagai bagian dari mereka. Berbeda dengan 2019, ketika Prabowo dianggap tidak berada dilingkaran mereka. Semenjak Prabowo bergabung dalam koalisi pemerintahan, Prabowo tak dianggap lagi sebagai ancaman. Ganjar apalagi, tak akan diperhitungkan sebagai sebuah ancaman. Karena Ganjar jelas sudah bisa diajak bekerja sama seperti yang terjadi pada kasus Wadas.
Anies adalah fenomena gerakan perubahan, Anies telah menjadi simbol gerakan perlawanan terhadap kejahatan oligarki dan penguasa rakus. Sehingga Anies harus dikuntit, dicari kesalahan dan kelemahannya lalu dihabisi.
Sayangnya upaya mereka untuk mencari kesalahan dan kelemahan Anies tak berjalan mulus, Anies tidak meladeni cara - cara kotor mereka, Anies tak hiraukan tekanan mereka, Anies tetap santun, senyum tapi raut ketegasan tetap dia tampakkan.
"Saya tak bisa ditekan - tekan oleh siapapun, apalagi tekanan itu melanggar konstitusi, saya akan tetap taat kepada konstitusi", Kata Anies dalam sebuah video yang viral dalam acara Mata Najwa.
Tekanan dan fitnah terhadap tidak membuat Anies gentar dan tunduk, tapi justru semakin menguatkan posisi Anies bahwa dia berada pada posisi yang benar untuk kepentingan NKRI dan rakyat.
Popularitas dan elektabilitas Anies tidak semakin turun, justru sebaliknya, keberadaan Anies ini ibarat batu karang ditengah lautan. Meski dihempas oleh badai dan ombak, batu karang tetap tegak dan semakin memutih.
Kesadaran rakyat akan pentingnya bersama Anies untuk melakukan perubahan dan membebaskan Indonesia dari cengkraman tangan oligarki serta penguasa jahat, kini juga sudah mulai menjangkiti Ormas dan partai politik.
Dukungan terhadap Anies semakin meluber ibarat air bah yang tak lagi bisa dibendung. Deklarasi dukungan terhada Anies untuk memperbaiki Indonesia dengan menjadi presiden terus berlanjut. Bahkan dari kalangan pemerintah juga memberi dukungan sebagaimana yang terjadi di Tubaba Lampung, Pemerintah Kabupaten memberi gelar Anis dengan Tuan Penata Negara.
Ditengah kesadaran rakyat dan partai-partai politik yang semakin kuat atas perubahan Indonesia lebih baik lagi, Indonesia yang adil, damai dan mensejahterakan, tak ada pilihan lagi kecuali bersama Anies, karena Anies jelas - jelas sudah dianggap sebagai musuh oligarki dan penguasa jahat. Anies dalam posisi seperti itu Anies tentu bisa dianggap sebagai orang baik dan benar yang dibutuhkan untuk perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
Bila kebenaran sudah datang pastilah kebathilan akan bisa dikalahkan. Nah kemenangan itu sudah dekat, perubahan Indonesia itu sudah didepan mata, tinggal kita sebagai rakyat dan warga negara, apakah masih mau bersama Anies atau tidak.
Rasanya untuk memperbaiki Indonesia menjadi lebih baik lagi, saat ini tak ada pilihan lagi kecuali bersama Anies. Semoga Anies dimenangkan dan ditakdirkan menjadi RI 1. Semoga!
Surabaya, 11 Mei 2022

Komentar
Posting Komentar